Kerugian besar bagi petani Afghanistan setelah larangan opium

  • Larangan budidaya poppy sejak 2022 mengubah total lanskap pertanian di Afghanistan, terutama di provinsi yang dulu menjadi pusat opium.
  • Laporan internasional menunjukkan penurunan lahan poppy dari ratusan ribu hektar menjadi sekitar 10.800 hektar pada 2023, disertai anjloknya pasokan hingga sekitar 333 ton.
  • Dampak paling cepat terasa di tingkat rumah tangga: petani dan buruh panen kehilangan arus kas, memicu kerugian yang ditaksir melampaui US$1 miliar.
  • Pergeseran ke gandum dan tanaman pangan membuat dapur tetap mengepul, tetapi marjin keuntungan jauh lebih tipis sehingga tekanan ekonomi meningkat.
  • Penyusutan produksi berpotensi menekan pasar gelap opiat, namun juga membuka risiko pergeseran ke narkoba sintetis serta perubahan rute penyelundupan regional.

Larangan budidaya bunga poppy di Afghanistan bukan sekadar keputusan keamanan, melainkan titik balik yang menyentuh dapur keluarga-keluarga desa. Dalam hitungan musim, ladang yang dulu menjadi “mesin uang” bagi banyak petani berubah menjadi lahan pangan yang lebih aman secara hukum, tetapi sering kali lebih miskin hasil secara finansial. Di selatan, terutama wilayah seperti Helmand yang sejak lama menjadi pusat produksi, kabar tentang razia dan pemusnahan tanaman pada 2022 menyebar cepat dari pasar ke pasar. Sebagian orang menyambutnya sebagai upaya memutus rantai narkoba, sementara yang lain melihatnya sebagai hilangnya satu-satunya cara bertahan hidup di tengah kekeringan, pengangguran, dan akses pasar yang terbatas.

Data yang dipublikasikan lembaga PBB menunjukkan skala perubahan yang ekstrem: luas budidaya poppy merosot tajam hingga tersisa puluhan ribu hektar kecil dibanding periode sebelumnya, dan pasokan opium turun drastis. Angka-angka itu mudah dibaca sebagai keberhasilan kebijakan, tetapi di baliknya ada cerita yang lebih rumit: utang benih, biaya irigasi, buruh panen yang kehilangan upah harian, serta desa yang tiba-tiba sepi transaksi. Pertanyaannya kemudian bukan hanya “berapa ton berkurang”, melainkan “bagaimana petani beralih tanpa jatuh lebih dalam ke jurang kemiskinan” dan apa artinya bagi ekonomi Afghanistan yang rapuh.

Kerugian besar petani Afghanistan setelah larangan opium: gambaran lapangan dari Helmand hingga Kunar

Di banyak distrik, larangan itu hadir dalam bentuk yang sangat konkret: patroli, perintah pengosongan lahan, hingga pemusnahan tanaman yang sudah ditanam. Salah satu momen yang sering dibicarakan warga adalah operasi pemberantasan di Washir, Helmand, pada akhir Mei 2022. Bagi petani kecil, peristiwa semacam itu bukan hanya soal tanaman yang dicabut, tetapi juga soal modal yang menguap. Banyak keluarga sudah lebih dulu mengeluarkan biaya untuk bibit, pupuk, sewa lahan, dan tenaga kerja. Ketika ladang dihancurkan, mereka tetap menanggung utang, sementara sumber pendapatan hilang mendadak.

Untuk memahami besarnya kerugian, bayangkan satu rumah tangga yang biasanya mengandalkan panen poppy untuk membayar kebutuhan setahun: pangan, perawatan kesehatan, dan uang sekolah. Opium selama bertahun-tahun berfungsi sebagai “komoditas tunai” yang mudah dipasarkan karena jaringan pembeli sudah mapan, bahkan di desa terpencil. Ketika budidaya itu dilarang, mereka memang bisa menanam gandum atau sayuran. Namun harga gandum cenderung lebih stabil dan lebih rendah, serta membutuhkan akses pasar yang lebih formal. Akibatnya, pendapatan bersih per hektar merosot jauh, sementara biaya hidup tetap naik.

Di provinsi lain seperti Kunar, pengalaman pemberantasan juga meninggalkan jejak psikologis. Kisah lama tentang aparat yang menghancurkan ladang pada masa-masa sebelumnya sering diulang sebagai pengingat bahwa kebijakan anti-narkoba bukan hal baru, tetapi dampaknya selalu berat bagi petani miskin. Perbedaan saat ini adalah skalanya: pengetatan dilakukan lebih luas dan lebih konsisten, membuat ruang negosiasi di tingkat lokal semakin sempit. Dalam kondisi itu, banyak keluarga memilih patuh karena risiko hukum, tetapi kepatuhan tidak otomatis berarti kesejahteraan.

Angka PBB yang banyak dikutip menyebut petani Afghanistan kehilangan pendapatan tunai lebih dari US$1 miliar setelah larangan diberlakukan. Nilai ini bukan hanya statistik; ia menjelaskan mengapa pasar desa mendadak lesu, toko pupuk menurun penjualannya, dan buruh musiman kehilangan pekerjaan. Buruh panen poppy biasanya dibayar harian selama masa penyadapan getah, pekerjaan yang menyerap banyak tenaga. Ketika poppy hilang dari lanskap, sumber upah harian ikut mengering, dan efeknya merembet ke pedagang roti, tukang jahit, hingga transportasi lokal.

Dalam percakapan warga, muncul pertanyaan retoris yang sering terdengar: “Jika poppy dilarang, siapa yang menanggung biaya transisi?” Jawaban yang ada di lapangan beragam. Sebagian keluarga menekan konsumsi, menjual ternak, atau mengirim anggota keluarga merantau. Sebagian lain mencoba usaha kecil, tetapi akses modal sulit. Di sinilah diskusi tentang instrumen keuangan mikro menjadi relevan, meski konteks Afghanistan berbeda dengan negara lain. Pembaca yang ingin memahami model pembiayaan mikro formal bisa melihat penjelasan umum tentang fintech pinjaman mikro berizin sebagai referensi bagaimana pembiayaan kecil dapat diatur dan diawasi, walau implementasinya di Afghanistan membutuhkan adaptasi keamanan dan tata kelola.

Yang jarang dibahas adalah perubahan relasi sosial di desa. Dulu, hasil opium kerap menjadi “jaminan sosial” informal: keluarga yang panennya bagus membantu tetangga, atau memberi pinjaman berbasis kepercayaan. Ketika komoditas itu hilang, jaringan bantuan ikut melemah. Pada akhirnya, larangan menggeser bukan hanya pola tanam, tetapi juga struktur ekonomi mikro desa. Insight yang tertinggal: kebijakan narkoba yang efektif tetap harus dihitung dari daya tahan rumah tangga, bukan semata dari berkurangnya luas lahan.

kerugian besar bagi petani afghanistan setelah larangan opium menyebabkan kesulitan ekonomi dan tantangan dalam mencari alternatif penghidupan.

Data UNODC dan dampak ekonomi Afghanistan: dari 233 ribu hektar ke 10.800 hektar

Laporan lembaga internasional menempatkan perubahan ini dalam angka yang sulit diabaikan. Luas budidaya poppy dilaporkan turun menjadi sekitar 10.800 hektar pada 2023, dibanding sekitar 233.000 hektar pada periode sebelumnya. Penurunan itu diikuti penyusutan pasokan opium hingga sekitar 95%, dengan estimasi produksi sekitar 333 ton. Angka-angka tersebut membantu menjelaskan mengapa Afganistan—yang selama bertahun-tahun diperkirakan menyuplai sebagian besar opium ilegal dunia—mendadak tak lagi menjadi “pusat gravitasi” tunggal dalam pasar opiat global.

Bagi ekonomi domestik, konsekuensinya jauh lebih rumit daripada sekadar hilangnya komoditas terlarang. Selama periode tertentu, nilai ekspor opium dilaporkan bisa melampaui total ekspor formal Afghanistan. Ini berarti opium bukan hanya “produk desa”, melainkan salah satu sumber devisa informal yang menopang konsumsi, perdagangan, dan arus uang tunai lintas provinsi. Bahkan ada perkiraan kontribusi sektor opium pernah berada di kisaran 9–14% dari PDB. Ketika porsi sebesar itu hilang cepat, guncangannya terasa seperti kontraksi ekonomi regional: permintaan turun, perputaran uang melambat, dan kemampuan rumah tangga membayar kebutuhan dasar terganggu.

Namun, data penurunan juga memunculkan ruang kebijakan yang baru. Jika pasokan berkurang, ada peluang untuk menekan pasar gelap opiat dan mengurangi dampak kesehatan serta kriminalitas lintas negara. Pertanyaannya, bagaimana mengelola “kemenangan” ini agar tidak berubah menjadi krisis kemanusiaan? Banyak warga Afghanistan bergantung pada pertanian; ketika komoditas tunai hilang, mereka butuh substitusi yang benar-benar menghasilkan. Direktur eksekutif UNODC pernah menekankan kebutuhan investasi besar dalam mata pencaharian berkelanjutan agar petani bisa beralih. Pesannya sederhana: transisi perlu modal, pelatihan, dan akses pasar, bukan sekadar larangan.

Untuk memperjelas perubahan dalam satu pandangan, tabel berikut merangkum indikator utama yang sering dibahas dalam diskusi kebijakan. Ini bukan sekadar angka, melainkan “peta” tekanan sosial-ekonomi yang dihadapi desa.

Indikator
Sebelum larangan menyeluruh
Setelah pengetatan (sekitar 2023)
Makna bagi petani dan ekonomi lokal
Luas budidaya poppy
~233.000 hektar
~10.800 hektar
Penyerapan tenaga kerja panen menurun tajam, lahan beralih ke tanaman pangan
Pasokan/produksi opium
Tinggi (Afghanistan pemasok utama global)
~333 ton (turun sekitar 95%)
Arus kas desa dari komoditas tunai terputus, transaksi pasar desa melemah
Kontribusi terhadap PDB
Diperkirakan 9–14%
Merendah drastis
Kontraksi ekonomi informal, tekanan pada konsumsi rumah tangga
Pendapatan tunai petani
Tinggi dan relatif cepat cair
Hilang besar, estimasi >US$1 miliar
Utang meningkat, penjualan aset, migrasi tenaga kerja

Di tingkat regional, perubahan suplai dapat mendorong penyesuaian harga dan strategi jaringan perdagangan. Ketika opium lebih langka, nilai di ujung rantai bisa naik, tetapi petani yang patuh pada larangan tidak ikut menikmati kenaikan itu. Sebaliknya, mereka menghadapi biaya peluang: kehilangan komoditas berharga tanpa pengganti setara. Ini juga menjelaskan mengapa sebagian kebijakan substitusi tanaman perlu memikirkan rantai nilai, bukan hanya bibit. Sebuah tanaman alternatif harus punya pembeli, gudang, transportasi, serta akses kredit.

Menariknya, diskusi global juga menyinggung risiko substitusi ke opioid sintetis. Ketika opiat alami turun, beberapa pasar bisa beralih ke zat yang lebih mudah diproduksi di tempat lain. Jadi, penurunan pasokan opium bukan otomatis berarti turunnya konsumsi narkoba dunia. Insightnya: keberhasilan di satu mata rantai harus diimbangi kebijakan kesehatan dan penegakan hukum lintas negara, agar beban tidak berpindah bentuk.

Perbincangan ini makin relevan karena tekanan iklim memperburuk ketahanan pertanian. Banyak komunitas di Asia Selatan dan sekitarnya menghadapi kekeringan dan pola cuaca tidak menentu. Sebagai pembanding, tren cuaca ekstrem yang memengaruhi warga di kawasan lain dapat dilihat melalui laporan gelombang fenomena cuaca ekstrem, yang memperlihatkan bagaimana ketidakpastian iklim mengubah perencanaan panen. Transisi ekonomi desa Afghanistan tidak berlangsung di ruang hampa; ia bertemu realitas iklim yang makin sulit diprediksi.

Peralihan pertanian dari opium ke gandum: realitas panen, harga, dan risiko keluarga

Dalam banyak laporan lapangan, opsi yang paling sering diambil petani adalah mengganti poppy dengan gandum. Secara sosial, gandum lebih “aman” dan langsung terkait dengan ketahanan pangan keluarga. Namun dari sisi pendapatan, gandum jarang mampu menutup gap. Poppy selama ini memberikan keuntungan karena nilai jual tinggi, mudah disimpan, dan pembeli datang ke desa. Gandum sebaliknya berat, butuh transportasi, harga dipengaruhi impor dan kebijakan, serta memerlukan akses pasar yang lebih formal. Akibatnya, petani yang beralih sering mendapati bahwa mereka bekerja sama keras, tetapi uang tunai yang masuk jauh lebih sedikit.

Ambil contoh figur fiktif, Ahmad, petani kecil di distrik yang dulu punya reputasi sebagai pusat poppy. Dulu ia bisa membayar pekerja musiman saat masa panen opium, dan menyisihkan uang untuk memperbaiki pompa air. Setelah larangan, ia menanam gandum. Panennya cukup untuk makan keluarga, namun ia tidak lagi punya dana untuk memperdalam sumur atau membeli solar untuk irigasi. Tahun berikutnya, hasil turun karena pompa rusak. Siklus seperti ini—ketika ketiadaan uang tunai menggerus produktivitas—menjadi perangkap yang sering luput dari diskusi makro.

Peralihan komoditas juga mengubah kalender kerja desa. Poppy menyerap tenaga pada periode tertentu, terutama saat penyadapan getah, dan itu menciptakan lapangan kerja harian bagi buruh tak berlahan. Ketika komoditas berganti, kebutuhan tenaga kerja bisa lebih rendah. Buruh panen kehilangan pekerjaan, lalu mencari sumber pendapatan lain: kerja konstruksi informal, migrasi, atau aktivitas lintas batas. Jika tidak ada alternatif, sebagian orang bisa tergoda kembali ke jaringan pasar gelap dengan peran baru, misalnya sebagai kurir atau penyedia logistik.

Ada pula petani yang mencoba diversifikasi: bawang, kapas, buah kering, atau sayuran. Masalahnya adalah rantai pendingin, akses gudang, dan fluktuasi harga. Sayuran bernilai tinggi tetapi mudah rusak; tanpa jalan dan penyimpanan, petani dipaksa menjual cepat pada harga rendah. Di sinilah investasi “tidak terlihat” menjadi penentu: jalan desa, pasar lelang, fasilitas pengeringan, hingga koperasi. Tanpa itu, anjuran beralih tanaman terdengar bagus di atas kertas tetapi rapuh dalam praktik.

Berikut beberapa strategi adaptasi yang sering dipakai keluarga desa untuk bertahan setelah larangan, beserta risiko yang menyertainya:

  • Menanam gandum untuk menjaga ketahanan pangan, tetapi menerima penurunan pendapatan tunai.
  • Diversifikasi tanaman (sayur, kacang-kacangan, buah kering) dengan harapan harga lebih baik, namun rentan kerusakan dan permainan tengkulak.
  • Menjual ternak atau aset untuk menutup kebutuhan mendesak, yang bisa melemahkan daya tahan ekonomi jangka panjang.
  • Migrasi kerja musiman ke kota atau luar negeri, yang membawa risiko biaya perjalanan, status hukum, dan perpecahan keluarga.
  • Meminjam uang dari jaringan informal, yang dapat menjerat bunga tinggi dan meningkatkan ketergantungan.

Di tengah situasi ini, perhatian pada lingkungan juga penting, karena banyak wilayah Afghanistan menghadapi degradasi lahan. Praktik pertanian yang lebih berkelanjutan—rotasi tanaman, pengelolaan air, konservasi tanah—bisa meningkatkan stabilitas hasil. Untuk memperkaya perspektif tentang nilai ekosistem dan pengelolaan bentang alam, pembaca dapat menengok tulisan tentang hutan tropis Indonesia sebagai contoh bagaimana sumber daya alam dan ekonomi lokal saling terkait. Meski konteks geografis berbeda, pelajarannya relevan: ketahanan jangka panjang membutuhkan perawatan ekologi, bukan hanya target produksi.

Pada akhirnya, transisi pertanian bukan soal mengganti benih semata. Ia adalah soal mengganti sistem: pembiayaan, logistik, pengetahuan, sampai negosiasi harga. Insight kuncinya: tanpa infrastruktur pasar dan dukungan pendapatan selama masa peralihan, larangan bisa mengurangi produksi opium tetapi sekaligus memperdalam kemiskinan pedesaan.

Pasar gelap, rute perdagangan, dan risiko narkoba sintetis setelah pasokan opium menyusut

Ketika pasokan opium Afghanistan turun drastis, pasar gelap tidak serta-merta lenyap. Ia beradaptasi, dan adaptasi itu sering terjadi lebih cepat daripada kebijakan. Dalam sejarah ekonomi ilegal, kelangkaan biasanya mengubah dua hal: harga dan inovasi. Harga bisa naik, mendorong sebagian aktor mengambil risiko lebih besar untuk mempertahankan pasokan. Pada saat yang sama, jaringan dapat mencari sumber lain atau mengganti produk dengan zat yang lebih mudah diproduksi di lokasi berbeda.

Di sinilah muncul kekhawatiran tentang pergeseran ke narkoba sintetis. Jika opiat alami makin sulit didapat, sebagian pasar dapat beralih ke opioid sintetis yang memiliki risiko kesehatan lebih tinggi dan lebih sulit dideteksi karena variasi kimia. Dari sudut pandang Afghanistan, ini menciptakan dilema kebijakan: keberhasilan mengurangi budidaya poppy dapat mengubah profil ancaman dari “ekonomi pertanian ilegal” menjadi “ekonomi produksi dan distribusi zat sintetis” di wilayah yang sama atau di wilayah tetangga. Apakah itu hasil yang diinginkan? Tentu tidak, tetapi itulah dinamika substitusi dalam ekonomi ilegal.

Perubahan pasokan juga memengaruhi rute penyelundupan. Ketika titik produksi mengecil, titik transit menjadi lebih penting. Jalur-jalur perdagangan yang dulu mengalir melalui provinsi tertentu bisa bergeser, mengubah pola korupsi, kekerasan, dan perebutan wilayah. Bagi penduduk desa, ini bisa terasa sebagai peningkatan pemeriksaan di jalan, biaya “pungutan” ilegal, atau ketegangan sosial baru. Jika negara tidak mampu menyediakan pendapatan legal yang menarik, beberapa pemuda dapat tergoda masuk ke mata rantai distribusi karena iming-iming uang cepat.

Diskusi tentang pasar gelap juga perlu menyinggung dimensi sosial: siapa yang paling terdampak? Biasanya bukan elite jaringan, melainkan petani kecil dan buruh. Mereka yang berada di ujung terbawah rantai paling mudah digantikan dan paling rentan dihukum. Karena itu, upaya memberantas narkoba idealnya disertai kebijakan yang melindungi rumah tangga miskin: akses kerja, pendidikan, dan dukungan pangan selama masa transisi.

Ada pelajaran dari berbagai krisis sosial di tempat lain: ketika ekonomi lokal runtuh mendadak, kerentanan meningkat dan dampaknya bisa menyebar lintas sektor. Sebagai analogi tentang bagaimana kehancuran dan pemulihan memerlukan tata kelola yang serius, pembaca dapat melihat dokumentasi tentang foto kehancuran Sumatra 2025, yang menggambarkan bagaimana komunitas berjuang membangun kembali kehidupan setelah guncangan besar. Meski penyebabnya berbeda, benang merahnya serupa: ketahanan sosial butuh rencana pemulihan yang nyata, bukan sekadar larangan atau seruan moral.

Di tingkat global, berkurangnya pasokan dari Afghanistan berpotensi menekan ketersediaan heroin di beberapa pasar tradisional. Namun efeknya tidak merata. Pasar yang punya banyak pemasok cenderung lebih cepat beradaptasi, sedangkan wilayah yang bergantung pada satu sumber bisa mengalami fluktuasi harga tajam. Dalam kondisi seperti itu, upaya kesehatan masyarakat—pencegahan overdosis, layanan rehabilitasi, edukasi—menjadi sama pentingnya dengan penegakan hukum. Insight penutup bagian ini: memotong suplai tanpa memperkuat sisi permintaan dan kesehatan publik hanya memindahkan masalah dari satu zat ke zat lain.

kerugian besar bagi petani afghanistan setelah larangan opium menyebabkan dampak ekonomi yang signifikan dan tantangan sosial bagi komunitas lokal.

Jalan keluar ekonomi pedesaan: investasi mata pencaharian berkelanjutan bagi petani Afghanistan

Jika larangan opium ingin menghasilkan stabilitas jangka panjang, fokus berikutnya adalah bagaimana mengisi ruang ekonomi yang ditinggalkan. Seruan UNODC tentang perlunya investasi besar dalam mata pencaharian berkelanjutan sering terdengar abstrak, tetapi di lapangan maknanya sangat praktis: irigasi yang berfungsi, benih berkualitas, akses pupuk yang tidak memeras, jalan ke pasar, dan lembaga pembeli yang transparan. Tanpa perangkat dasar itu, petani akan terus berada pada pilihan sempit antara bertahan dengan pendapatan rendah atau kembali mencari jalur ilegal.

Salah satu pendekatan yang banyak dibahas adalah membangun rantai nilai komoditas legal yang “setara secara ekonomi” bagi rumah tangga. Ini tidak selalu berarti satu tanaman pengganti; sering kali yang lebih realistis adalah kombinasi: gandum untuk konsumsi, ditambah komoditas bernilai seperti kacang, rempah, madu, atau buah kering untuk pendapatan tunai. Namun kombinasi ini membutuhkan pengetahuan budidaya, standar kualitas, dan akses pembeli. Program pelatihan yang hanya berlangsung beberapa hari tidak cukup; yang dibutuhkan adalah pendampingan beberapa musim tanam sampai petani mampu mengelola risiko sendiri.

Pembiayaan menjadi kunci. Banyak keluarga kehilangan modal kerja setelah larangan, sementara lembaga keuangan formal terbatas. Skema kredit yang sehat harus menghindari jebakan bunga tinggi. Di sinilah ide kredit mikro yang diawasi dan transparan relevan sebagai konsep, meski perlu model yang sesuai kondisi keamanan setempat. Ketika pembiayaan tersedia, petani bisa membeli pompa, memperbaiki saluran air, atau menyimpan hasil panen untuk dijual pada saat harga lebih baik. Tanpa pembiayaan, mereka menjual cepat dengan harga rendah—pola yang menjaga mereka tetap miskin.

Solusi lain adalah memperluas pekerjaan non-pertanian di desa: pengolahan hasil panen, pengeringan buah, penggilingan gandum, kerajinan, hingga jasa perbaikan alat. Ini penting karena tidak semua orang punya lahan. Buruh harian yang dulu bergantung pada panen poppy harus memiliki alternatif pekerjaan yang menyerap tenaga kerja. Bila tidak, desa akan terus mengalami arus migrasi, dan struktur keluarga terganggu. Mengapa ini penting? Karena stabilitas ekonomi rumah tangga adalah fondasi stabilitas sosial.

Berikut contoh rancangan intervensi yang lebih “membumi” untuk mendukung transisi, dengan fokus pada hasil yang bisa diukur:

  1. Program padat karya untuk memperbaiki irigasi dan jalan desa sebelum musim tanam, agar pendapatan tunai masuk cepat.
  2. Koperasi pemasaran yang menegosiasikan harga dan kontrak, sehingga petani tidak sendirian menghadapi tengkulak.
  3. Fasilitas penyimpanan (gudang, pengering) agar hasil panen tidak dijual saat harga terendah.
  4. Kontrak pembelian dengan pelaku usaha pangan/tekstil untuk komoditas seperti gandum, kapas, atau kacang-kacangan.
  5. Skema pembiayaan kecil yang transparan untuk alat pertanian, pompa air, dan input produksi.

Setiap langkah di atas punya satu tujuan bersama: membuat pertanian legal menjadi pilihan rasional secara ekonomi, bukan sekadar kewajiban. Tanpa itu, larangan berisiko memunculkan “kepatuhan yang rapuh”—patuh ketika pengawasan kuat, lalu kembali ke aktivitas ilegal saat tekanan hidup meningkat. Pada 2026, tantangan Afghanistan tidak hanya mengurangi narkoba, tetapi membangun ekonomi desa yang mampu menyerap tenaga kerja dan tahan terhadap guncangan iklim serta harga pangan.

Sebelum beralih ke isu kebijakan yang lebih luas, satu pelajaran penting perlu dipegang: transisi yang berhasil selalu menyediakan jembatan pendapatan. Larangan tanpa jembatan menciptakan jurang, dan jurang itu biasanya ditutup oleh utang, migrasi, atau pasar gelap.

Berita terbaru
Indonesia: komunitas pendaki gunung melihat pegunungan sebagai ruang budaya dan kebersamaan
Indonesia: tradisi memasak turun-temurun tetap dijaga dari ibu ke anak ?
Harapan Indonesia memasuki 2026 setelah tahun yang diwarnai bencana reformasi anggaran dan kesepakatan dagang
Tinjauan kembali komitmen Indonesia terhadap energi terbarukan hingga 2030
Uni Eropa: kebijakan baru disiapkan untuk menjamin pasokan energi pada 2026
Berita terbaru

Di banyak rumah di Indonesia, dapur bukan sekadar ruang fungsional,

Menjelang pergantian tahun, Harapan sering terasa lebih nyata dibanding angka-angka