Foto kehancuran di Sumatra jadi simbol akhir tahun 2025 di Indonesia

En bref

  • Foto bangunan rata, jembatan putus, dan lumpur pekat dari Aceh hingga Sumatera Barat menjelma simbol duka akhir tahun 2025 di Indonesia.
  • Rangkaian bencana hidrometeorologi (banjir bandang, luapan sungai, dan longsor) dipicu hujan ekstrem, dengan dampak terparah di Sumatra bagian utara dan tengah.
  • Data resmi BNPB per 4 Januari 2026 mencatat 1.177 orang meninggal, 148 hilang, dan lebih dari 7.000 luka-luka; terdampak langsung lebih dari 3,3 juta jiwa, pengungsi hingga 1 juta orang.
  • Kerusakan meluas pada fasilitas publik, sekolah, puskesmas/rumah sakit, rumah ibadah, kantor, dan ratusan jembatan yang memutus logistik.
  • Perdebatan publik menguat: cuaca ekstrem adalah pemicu, tetapi kerentanan ekologis—terutama degradasi hutan hulu DAS dan alih fungsi lahan—membesarkan skala kehancuran.
  • Respons melibatkan pemerintah pusat/daerah, TNI/Polri, Kemensos, OJK, hingga solidaritas warga dan dukungan internasional.

Di penghujung 2025, banyak orang Indonesia menutup tahun dengan kalender yang penuh rencana: mudik singkat, pesta keluarga, atau sekadar menarik napas setelah bulan-bulan yang terasa berat. Namun di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, penutup tahun datang dengan bunyi lain—sirene, deru air, dan kabar kehilangan. Di layar ponsel, foto demi foto beredar: rumah yang bergeser dari pondasi, kendaraan tersangkut di batang kayu, jembatan yang tinggal rangka, dan lorong-lorong permukiman yang berubah menjadi sungai cokelat. Seketika, kehancuran itu bukan lagi sekadar dokumentasi; ia menjadi simbol yang mewakili rasa rapuh, marah, dan berkabung kolektif di Indonesia.

Rangkaian peristiwa banjir bandang, luapan sungai, dan longsor yang memuncak akhir November 2025 memperlihatkan bagaimana bencana tidak hanya “turun dari langit”, melainkan membentur realitas yang sudah lama retak: tata ruang yang membiarkan permukiman menempel pada sempadan sungai, hulu DAS yang kehilangan tutupan, dan jaringan infrastruktur yang mudah putus saat diterjang arus. Ketika BNPB merilis pembaruan data per 4 Januari 2026—1.177 korban jiwa, 148 hilang, jutaan terdampak—angka-angka itu seakan mengubah foto menjadi arsip sejarah. Dari situlah narasi “akhir tahun” bergeser: bukan kembang api, melainkan pelajaran pahit tentang risiko yang dibangun pelan-pelan, lalu runtuh sekaligus.

Foto kehancuran Sumatra sebagai simbol akhir tahun 2025 di Indonesia: dari layar ponsel ke memori kolektif

Di masa ketika kabar beredar lebih cepat daripada kendaraan evakuasi, foto memiliki kekuatan ganda: ia menyelamatkan ingatan sekaligus mengguncang emosi. Dalam bencana Sumatra akhir 2025, foto udara memperlihatkan pola yang berulang—alur sungai melebar, titik-titik permukiman yang “hilang” dari peta, hingga lapisan lumpur yang menutupi sawah. Foto jarak dekat memperlihatkan detail yang lebih menusuk: buku sekolah yang basah, potongan pakaian di pagar, dan dapur yang tinggal rangka. Banyak orang di luar zona terdampak memahami skala kerusakan justru pertama kali dari foto-foto ini, bukan dari angka statistik.

Agar pemahaman publik tidak berhenti pada rasa iba sesaat, penting melihat apa yang “dibawa” sebuah gambar. Foto jembatan putus, misalnya, bukan hanya soal beton yang patah. Ia mengisyaratkan putusnya rantai pasok makanan, obat, dan bahan bakar; putusnya akses guru ke sekolah; hingga tertundanya layanan kesehatan ibu dan bayi. Foto perahu karet yang menyusuri jalan raya menunjukkan perubahan fungsi ruang: jalan yang semestinya menghubungkan, berubah menjadi saluran air darurat. Itulah mengapa foto menjadi simbol—ia menyatukan cerita-cerita kecil menjadi satu kesadaran besar tentang rapuhnya sistem.

Kasus-kasus yang membentuk “ikon” visual: Aceh Utara, Tapanuli Tengah, dan Agam

Beberapa lokasi muncul berulang dalam pemberitaan karena dampaknya yang menonjol. Di Aceh, misalnya, laporan resmi mencatat ratusan korban jiwa dan pengungsian besar-besaran; Kabupaten Aceh Utara menjadi salah satu titik dengan korban terbanyak (sekitar dua ratusan). Di Sumatera Utara, wilayah seperti Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan sering disebut karena kombinasi banjir dan longsor yang memutus akses dan menelan korban. Sementara di Sumatera Barat, Kabupaten Agam menjadi pusat perhatian karena banjir bandang yang memakan korban jiwa besar serta orang hilang, disusul longsor yang mematikan di jalur masuk Padang Panjang.

Secara visual, tiap wilayah punya “tanda” yang mudah diingat. Aceh kerap tampil dengan hamparan genangan luas dan permukiman yang terisolasi. Sumut sering terlihat lewat foto jalur lintas yang tertutup material longsor dan jembatan desa yang rubuh. Sumbar tampil lewat gambar arus deras yang menyeret kayu-kayu besar dan menyapu bantaran. Perbedaan ini penting: publik tidak sedang menonton satu bencana yang seragam, melainkan mozaik peristiwa yang membutuhkan respons berbeda di setiap tempat.

Mengapa foto bisa menyesatkan jika tidak dibaca dengan konteks

Namun foto juga punya keterbatasan. Satu sudut pengambilan gambar dapat membuat dampak tampak lebih kecil atau lebih dramatis. Foto longsor besar bisa menutupi fakta bahwa di desa sebelah ada krisis air bersih yang “tidak fotogenik”. Karena itu, membaca foto perlu konteks: kapan diambil, lokasi tepatnya, dan apa dampaknya pada layanan dasar. Di sinilah peran laporan BNPB, posko terpadu, dan jurnalisme lapangan menjadi penyeimbang antara emosi dan verifikasi.

Pada akhirnya, kekuatan foto dalam bencana Sumatra 2025 terletak pada kemampuannya mengikat perhatian nasional dan mendorong pertanyaan: apakah kita hanya menyimpan gambar sebagai duka akhir tahun, atau menjadikannya pemicu perubahan tata kelola? Pertanyaan itu membuka jalan untuk membahas akar meteorologis dan ekologis pada bagian berikutnya.

Bencana hidrometeorologi Sumatra akhir 2025: kronologi peristiwa, angka korban, dan peta kerusakan

Rangkaian bencana di Sumatra tidak terjadi dalam satu malam, tetapi meningkat seiring hujan deras yang bertahan selama beberapa hari. Pada akhir November 2025, wilayah utara dan tengah pulau mengalami intensitas hujan tinggi yang mendorong luapan sungai dan membuat lereng-lereng yang labil kehilangan daya ikat. Sejumlah kabupaten/kota yang sering disebut dalam laporan dampak berat antara lain Aceh Tamiang di Aceh, Sibolga dan beberapa wilayah Tapanuli di Sumatera Utara, serta Agam dan kawasan sekitar Padang Panjang di Sumatera Barat. Bagi warga, kronologi itu terasa sederhana: hujan tak berhenti, air naik cepat, lalu tanah bergerak.

Skala korban dan dampak sosialnya membuat peristiwa ini dipandang sebagai salah satu tragedi alam paling mematikan di Indonesia sejak bencana besar 2018 di Sulawesi. Pembaruan BNPB per 4 Januari 2026 mencatat 1.177 orang meninggal dan 148 hilang, dengan lebih dari 7.000 luka-luka. Angka ini bukan sekadar statistik; ia menggambarkan beban rumah sakit darurat, tekanan psikologis keluarga, dan panjangnya proses identifikasi korban di lokasi yang sulit dijangkau.

Rekap dampak lintas provinsi: dari korban jiwa hingga infrastruktur vital

Dari sisi kependudukan, dampak langsung diperkirakan menyentuh lebih dari 3,3 juta jiwa, sementara pengungsian mencapai sekitar 1 juta orang yang tersebar di puluhan kabupaten/kota. Di Aceh saja, laporan pemerintah daerah dan BNPB mencatat ratusan ribu pengungsi serta jutaan penduduk terdampak, dengan puluhan ribu rumah mengalami kerusakan berbagai tingkat. Di Sumatera Utara, kerusakan rumah tercatat dari rusak ringan hingga berat, disertai ratusan jembatan yang tidak lagi aman dilintasi. Di Sumatera Barat, selain korban jiwa dan hilang, banjir tinggi di kawasan permukiman—seperti daerah yang genangannya bisa mencapai sekitar dua meter—memaksa evakuasi cepat dan menyulitkan pembersihan pascabanjir.

Jika dibaca dari kacamata layanan publik, angka kerusakan fasilitas memperlihatkan potret “negara yang terganggu”: sekitar 1.900 fasilitas umum terdampak, sekitar 200 fasilitas kesehatan rusak, ratusan sekolah dan rumah ibadah terganggu fungsinya, serta ratusan jembatan yang putus atau retak. Dampak ini menjelaskan mengapa banyak wilayah mengalami krisis ganda—bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan akses belajar, pelayanan kesehatan, dan mobilitas ekonomi.

Indikator Dampak Utama
Rekap (pembaruan BNPB per 4 Jan)
Makna di lapangan
Korban meninggal
1.177 orang
Pencarian dan identifikasi korban berjalan panjang, banyak keluarga kehilangan penopang ekonomi.
Korban hilang
148 orang
Medan sulit, material longsor tebal, dan arus deras menghambat operasi SAR.
Korban luka
> 7.000 orang
Lonjakan kebutuhan layanan medis, obat, dan dukungan trauma healing.
Penduduk terdampak
> 3,3 juta jiwa
Gangguan ekonomi rumah tangga, sekolah, dan akses pangan di banyak titik.
Pengungsi
hingga 1 juta orang
Masalah sanitasi, air bersih, serta risiko penyakit menular di hunian sementara.
Jembatan rusak
734 unit
Distribusi logistik tersendat; desa-desa terisolasi membutuhkan jalur alternatif.

Ilustrasi lapangan lewat satu tokoh: “Rafi” dan jalan yang tiba-tiba hilang

Agar angka terasa lebih dekat, bayangkan Rafi, sopir angkutan antarkecamatan yang biasa mengantar sayur dari pinggiran ke pasar. Ketika satu jembatan utama runtuh, rutenya yang biasanya 40 menit berubah jadi 4 jam memutar. Biaya solar naik, sayur cepat layu, dan pendapatannya turun. Foto jembatan putus yang viral bagi orang lain, bagi Rafi adalah kalender baru: kalender biaya, risiko, dan ketidakpastian yang dimulai dari satu hari hujan panjang.

Gambaran ini membantu kita beralih ke pertanyaan yang lebih teknis: mengapa hujan bisa begitu ekstrem, dan mengapa air yang turun berubah menjadi daya rusak sedemikian besar?

Untuk memahami sisi meteorologisnya, perbincangan publik banyak merujuk pada peringatan cuaca dan penjelasan dinamika atmosfer regional.

Siklon Senyar, hujan ekstrem, dan perubahan pola cuaca: membaca pemicu meteorologis tanpa menyederhanakan bencana

Dalam bencana hidrometeorologi, cuaca sering tampil sebagai “tersangka utama”. Pada akhir November hingga awal Desember 2025, BMKG menjelaskan bahwa Sumatra bagian utara memasuki puncak musim hujan, dengan catatan curah hujan sangat tinggi—di sejumlah pembacaan dapat mencapai sekitar 300 mm dalam periode tertentu. Pada saat yang sama, terbentuk bibit siklon di wilayah Selat Malaka yang kemudian menguat menjadi Siklon Tropis Senyar pada 26 November 2025 pagi. Bagi banyak orang awam, istilah ini terdengar jauh; padahal dampaknya terasa dekat melalui hujan yang tak memberi jeda.

Yang membuat peristiwa ini mencolok bagi meteorolog adalah posisi pembentukan siklon yang relatif dekat khatulistiwa—kejadian yang jarang karena siklon tropis biasanya memerlukan kondisi tertentu (termasuk gaya Coriolis yang lebih “kuat” di lintang lebih tinggi). Dalam berbagai analisis akademik yang beredar, penguatan hujan ekstrem juga dikaitkan dengan interaksi dinamika atmosfer seperti gelombang ekuatorial dan fase tertentu Madden–Julian Oscillation, ditambah anomali iklim global seperti La Niña dan Indian Ocean Dipole yang dapat memodulasi suplai uap air. Dalam bahasa sederhana: langit membawa lebih banyak “bahan bakar” untuk hujan, lalu menumpahkannya berkepanjangan.

Dari hujan menjadi banjir bandang: mengapa durasi dan intensitas menentukan

Hujan ekstrem berbeda dari hujan deras biasa dalam dua hal: intensitas dan durasi. Bila hujan sangat lebat turun lebih dari 24 jam, tanah akan mencapai titik jenuh. Setelah itu, tambahan air tidak lagi meresap, melainkan meluncur di permukaan sebagai limpasan cepat. Limpasan ini berkumpul ke parit, anak sungai, lalu sungai utama—membentuk gelombang air yang bisa datang seperti “tembok”, ciri khas banjir bandang. Sementara di lereng, tanah jenuh air kehilangan kekuatan gesek, sehingga longsor lebih mudah terjadi.

Di titik inilah cuaca menjadi pemicu yang kuat. Namun pemicu bukan penentu tunggal besarnya kehancuran. Dua lokasi bisa menerima hujan serupa, tetapi mengalami dampak berbeda. Perbedaan itu biasanya terletak pada kondisi hulu DAS, tutupan vegetasi, kepadatan permukiman di bantaran, dan kualitas infrastruktur drainase. Jadi, membaca meteorologi penting untuk peringatan dini, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan mengapa korban dan kerusakan meluas.

Bagaimana peringatan dini seharusnya “diterjemahkan” di tingkat kampung

Salah satu pelajaran yang sering muncul pascabencana adalah jurang antara peringatan cuaca dan tindakan warga. Peringatan hujan ekstrem bisa terdengar abstrak, sementara keputusan evakuasi menyangkut hal konkret: meninggalkan ternak, menutup warung, atau memindahkan lansia. Di beberapa desa, bunyi sungai yang berubah—lebih keras, lebih “berat”—sebenarnya menjadi alarm tradisional. Tantangannya, alarm tradisional ini perlu dipadukan dengan informasi modern agar keputusan evakuasi tidak terlambat.

Contoh penerjemahan yang efektif bisa berupa peta titik kumpul yang disepakati, latihan evakuasi berbasis RT/gampong, dan tanda batas aman di dekat sungai yang mudah dipahami. Saat hujan ekstrem berulang, pertanyaan retorisnya menjadi penting: apakah peringatan hanya berhenti sebagai notifikasi ponsel, atau berubah menjadi gerak kolektif yang menyelamatkan nyawa? Jawaban pertanyaan itu membawa kita pada faktor yang memperbesar daya rusak: kondisi ekologis di hulu.

Degradasi hutan, alih fungsi lahan, dan “dosa ekologis”: mengapa kerusakan lingkungan memperparah bencana di Sumatra

Jika cuaca adalah pemantik, maka kondisi lingkungan adalah bahan yang membuat api membesar. Sejumlah peneliti dari kampus besar dan organisasi masyarakat sipil menekankan bahwa skala kehancuran di Sumatra tidak bisa dilepaskan dari kerentanan ekologis—terutama rusaknya hutan di hulu DAS. Dalam bahasa hidrologi yang mudah dicerna, hutan bekerja seperti “spons raksasa”: tajuk menahan sebagian air (intersepsi), akar memperkuat tanah, dan serasah memperlambat aliran permukaan. Ketika tutupan ini hilang, hujan deras lebih cepat berubah menjadi aliran liar, menggerus tanah, membawa material, lalu menghantam permukiman di bawahnya.

Dalam beberapa tahun terakhir sebelum 2025, berbagai temuan lembaga lingkungan menunjukkan kehilangan tutupan hutan yang besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hilangnya hutan pada bentang kritis seperti Bukit Barisan atau kawasan hulu tertentu berdampak langsung pada daya tampung air. Banyak DAS yang tutupan hutan alaminya menurun hingga berada pada tingkat yang membuatnya rentan: ketika hujan ekstrem datang, debit sungai melonjak tanpa “peredam”.

Industri ekstraktif dan perubahan lanskap: dari izin tambang hingga kebun sawit

Tekanan terhadap hulu bukan hanya dari satu sektor. Catatan jaringan advokasi menunjukkan izin usaha pertambangan minerba di Sumatra sangat banyak dengan luasan jutaan hektare, disertai ekspansi perkebunan sawit yang di sejumlah tempat melampaui kapasitas ekologis. Selain itu, proyek energi di kawasan hulu juga menambah kompleksitas tata kelola ruang. Ketika pembukaan lahan terjadi, bukan hanya pohon yang hilang; tanah dibuka, jalan logging muncul, kemiringan lereng dipotong, dan sedimen mudah terbawa. Kombinasi ini membuat banjir bandang membawa lebih banyak material—bukan sekadar air, melainkan lumpur, batu, dan kayu.

Di lapangan, temuan kayu gelondongan dengan bekas potongan mesin yang terbawa arus memperkuat dugaan adanya pembalakan yang tidak terkendali, baik legal maupun ilegal. Bagi warga hilir, pemandangan kayu-kayu raksasa yang menghantam rumah adalah bukti nyata bahwa yang terjadi di hulu akan selalu “turun” ke bawah—cepat atau lambat.

Studi kecil berbasis keluarga: kebun yang “untung” lalu berubah menjadi beban

Di sebuah nagari hipotetis di lereng Sumbar, keluarga Mira pernah mengganti kebun campuran menjadi monokultur yang lebih cepat panen karena tergiur harga. Dalam dua musim, pendapatan naik. Namun saat hujan ekstrem datang, parit kecil yang dulu cukup menampung air berubah menjadi arus deras. Tanah kebun yang terbuka mudah tererosi, dan lumpur mengalir ke rumah-rumah di bawah. Bagi keluarga Mira, bencana mengubah hitungan untung-rugi: keuntungan jangka pendek dibayar dengan biaya pemulihan yang jauh lebih mahal.

Inilah inti kritik “dosa ekologis” yang ramai dibicarakan: kerusakan lingkungan bukan kejadian acak, melainkan akumulasi keputusan ekonomi dan politik. Dan ketika bencana terjadi, biaya terbesar sering dipikul oleh warga yang paling sedikit menikmati manfaat ekspansi. Dari sini, pembahasan logis berikutnya adalah bagaimana negara dan masyarakat merespons—bukan hanya pada hari pertama, tetapi sepanjang masa pemulihan.

Perdebatan soal hulu-hilir dan kebijakan lingkungan sering dibahas dalam forum publik dan liputan mendalam; banyak kanal menyoroti hubungan deforestasi dengan banjir bandang.

Respons kemanusiaan dan pemulihan: logistik, kebijakan kredit, solidaritas publik, dan desakan evaluasi izin

Ketika bencana menyebar di tiga provinsi sekaligus, respons tidak bisa mengandalkan satu pintu. Pemerintah mengaktifkan mobilisasi lintas lembaga: operasi evakuasi, pembukaan akses, layanan kesehatan, dan distribusi logistik. Di lapangan, kebutuhan paling mendesak biasanya sederhana—makan, air bersih, obat, dan selimut—tetapi pemenuhannya rumit karena banyak titik terisolasi akibat jembatan putus dan jalan tertutup longsor. Pengiriman bantuan melalui udara dan penjatuhan logistik menjadi pilihan di lokasi tertentu, terutama saat jalur darat tidak mungkin dilalui.

Dalam fase tanggap darurat, BPBD dan pemerintah daerah menyalurkan paket kebutuhan pokok, tenda, perlengkapan keluarga, hingga perahu karet. Kementerian Sosial memimpin dukungan logistik dengan nilai yang dilaporkan mencapai puluhan miliar rupiah, serta membangun puluhan dapur umum di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kapasitas produksi makanan yang besar—hingga puluhan ribu bungkus per hari—menjadi penyangga penting agar pengungsian tidak berubah menjadi krisis kelaparan. Di beberapa titik, pemerintah kabupaten juga membangun jembatan darurat agar distribusi pangan dan aktivitas ekonomi minimal bisa berjalan.

Perlindungan ekonomi dan komunikasi: restrukturisasi kredit dan internet darurat

Di luar bantuan fisik, kebijakan ekonomi darurat punya dampak langsung pada ketahanan keluarga. OJK memberi ruang bagi perbankan untuk menerapkan perlakuan khusus pada kredit korban bencana, termasuk restrukturisasi agar keluarga tidak langsung jatuh ke jurang gagal bayar saat usaha berhenti. Ini penting bagi pedagang pasar, petani, atau pemilik kendaraan yang rusak. Pada saat yang sama, akses komunikasi juga krusial: layanan internet satelit digratiskan bagi korban di periode tertentu, membantu posko dan warga menghubungi keluarga, mengirim koordinat, serta mengakses informasi kesehatan.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pemulihan modern bukan hanya membangun kembali dinding rumah. Ia juga memulihkan arus uang, arus informasi, dan rasa terkoneksi—tiga hal yang sering hilang bersamaan ketika air menutup jalan.

Solidaritas publik dan dukungan internasional: dari donasi cepat hingga doa lintas negara

Gelombang solidaritas datang dari banyak arah. Penggalangan dana publik yang dipicu figur masyarakat berhasil mengumpulkan donasi besar dalam waktu singkat, dengan fokus penyaluran ke wilayah terpencil yang kerap luput dari sorotan kamera. Di sisi lain, dinamika ruang digital juga memperlihatkan sisi lain: apresiasi, serangan narasi negatif, hingga klarifikasi terbuka—sebuah pengingat bahwa bahkan bantuan pun bisa menjadi medan perdebatan.

Dari luar negeri, bantuan medis dan obat-obatan datang, termasuk tim dokter yang mendarat di Aceh. Dukungan moral juga mengemuka di panggung global ketika pemimpin agama dunia menyampaikan doa dan ajakan “gestur solidaritas yang konkret”. Di tingkat lokal, komunitas olahraga menggalang dana melalui acara daerah, menyumbangkan pendapatan untuk kebutuhan pokok korban. Rangkaian ini memperlihatkan satu hal: saat negara bekerja, masyarakat tetap menjadi otot yang menguatkan gerak, terutama di ruang-ruang kecil yang tidak selalu terjangkau birokrasi.

Debat status darurat dan evaluasi izin: pemulihan sebagai pintu perubahan

Skala dampak memunculkan desakan agar status penanganan ditingkatkan menjadi darurat nasional, dengan argumen bahwa beberapa daerah menyatakan kewalahan: listrik padam, komunikasi terputus, dan kebutuhan dasar kolaps. Di saat yang sama, lembaga kajian ekonomi memperkirakan kerugian dapat mencapai puluhan triliun rupiah, menghitung kerusakan rumah, hilangnya pendapatan, putusnya infrastruktur, dan rusaknya lahan pertanian. Perkiraan ini mendorong rekomendasi kebijakan yang tegas, termasuk peninjauan ulang izin tambang dan pembatasan ekspansi kebun di kawasan hulu serta DAS kritis.

Komitmen evaluasi tata kelola kehutanan dan pertambangan sempat disampaikan pejabat terkait. Pertanyaan kuncinya: apakah evaluasi berhenti sebagai pernyataan, atau menjadi perubahan nyata dalam cara pembangunan membaca daya dukung alam? Bila foto kehancuran dijadikan simbol yang bekerja, seharusnya ia mengarah pada keputusan yang mencegah pengulangan—bukan hanya mempercepat perbaikan fisik. Itu juga berarti memadukan sains cuaca, penegakan aturan ruang, dan pemulihan ekosistem sebagai satu paket yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Berita terbaru
Indonesia: komunitas pendaki gunung melihat pegunungan sebagai ruang budaya dan kebersamaan
Indonesia: tradisi memasak turun-temurun tetap dijaga dari ibu ke anak ?
Harapan Indonesia memasuki 2026 setelah tahun yang diwarnai bencana reformasi anggaran dan kesepakatan dagang
Tinjauan kembali komitmen Indonesia terhadap energi terbarukan hingga 2030
Uni Eropa: kebijakan baru disiapkan untuk menjamin pasokan energi pada 2026
Berita terbaru

Di banyak rumah di Indonesia, dapur bukan sekadar ruang fungsional,

Menjelang pergantian tahun, Harapan sering terasa lebih nyata dibanding angka-angka