Dari Tuban untuk Ketahanan Energi Negara

oleh -
BERI KETERANGAN : Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR V, Rustam Aji saat Memberi Keterangan Pers

Reporter: M. Rizqi

Lenterakata.com – Kabupaten Tuban akan mempunyai peran besar pada negeri ini. Sebab, kabupaten berpenduduk sekitar 1,3 juta jiwa ini bakal menopang sebagian kebutuhan energy bangsa ini. Itu terjadi jika kilang raksasa yang direncakan itu benar-benar dibangun dan beroperasi di Bumi Wali, sebutan lain Kota Tuban.

Link Banner

Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR V, Rustam Aji menyatakan kilang New Grass Root Refinery (NGRR) yang akan dibangun di Tuban adalah program strategis nasional. Sebab, kilang tersebut diharapkan bakal menjadi penopang pemenuhan kebutuhan energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.

‘’Pembangunan kilang ini nanti bisa menekan atau mengurangi impor BBM. Sehingga akan mengurangi ketergantungan pada negara lain untukmembangun ketahanan energi nasional,’’ ujarnya saat member keterangan pers pada sejumlah wartawan di Tuban.

Dia mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan BBM tanah air, Pertamina ditopang oleh sejumlah kilang. Sedangkan kilang paling muda yang dimiliki Pertamina dibangun pada 1994 di Balongan, Indramayu.

‘’Selama kurun waktu 25 tahun ini belum membangun kilang baru. Dan rencana akan membangun lagi di Tuban ini,’’ tambahnya.

Sebagai gambaran, lanjut dia, kebutuhan BBM nasional 1,5 juta barel per hari. Sedangkan kapasitas seluruh kilang yang dipunyai 1 juta barel per hari. Itupun kalau dalam kondisi seluruh mesin kilang normal.

Tidak menutup kemungkinan adanya dampak dari kilang tersebut, tapi dari pengalaman di beberapa daerah yang memiliki kilang, manfaat positifnya lebih besar. Karena itu, dia minta bantuan pada pers untuk menyampaikan manfaat yang besar itu pada pada  masyarakat.

‘’Nanti akan banyak manfaat positif yang dirasakan masyarakat, termasuk dampak ikutan seperti usaha-usaha jasa penunjang,’’ sebutnya.

Terkait dengan penyampaian aspirasi yang dilakukan sejumlah warga, Rustam menyebut hal itu sebagai dinamika. Pembangunan kilang masih tahap awal, yakni sosialisasi. Bakal akan tahapan lanjutan yang lebih panjang. Misalnya negosiasi dan sebagainya.

“Untuk pembebasan lahan, kami sudah menggandeng Kejati Jatim hingga pusat. Mulai proses sampai pembebasan akan taat hukum dan sesuai ketentuan,” pungkasnya.(*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *