Perempuan Muda yang Memilih Tari Tradisional

oleh -

LESTARIKAN SENI : Tiga Perempuan Muda Ini Sepakat Melestarikan Tari Tradisional
LESTARIKAN SENI : Tiga Perempuan Muda Ini Sepakat Melestarikan Tari Tradisional

*Ingin Melestarikan Budaya, Tak Takut Dibilang Kuno

Penulis : Sri Wiyono

Mereka berasal dari kabupaten yang sama, meski berasal dari kecamatan yang berbeda. Namun, seni yang kemudian mempertemukan mereka. Begitulah perjalanan Galuh, Lilis dan Lifah. Tiga perempuan muda yang memilih jalan menekuni tari tradisional.

Link Banner

Ketiganya masih berpakaian tari lengkap kala itu. Di keningnya, ada butir-butir keringat. Nafasnya juga masih memburu. Sambil duduk di lantai mereka terlihat menata nafas dan mengelap keringat. Lalu mereka berswafoto foto atau selfie. Khas anak muda jaman now!

Begitulah Galuh Haryanti, Lilis Endang dan Siti Cholifah tiga penari gambyong saat membuka sebuah acara di pendapa kabupaten Tuban waktu itu. Semerbak harum melati menusuk hidung saat mendekati tiga perempuan muda ini. Ya, masih muda. Ketiganya masih usia 20 an tahun.

Hanya, semangat tiga perempuan muda ini menekuni dunia seni tradisional layak diacungi jempol. Ketika banyak perempuan muda kesengsem dengan seni pop modern, bahkan seni dari manca negara seperti dancing, K-POP dan sejenisnya, tiga perempuan ini asyik berkutat dengan tari tradisional.

‘’Kami sudah terlanjur jatuh cinta, jadi sekalian kami tekuni,’’ ujar Galuh yang sering mewakili dua rekannya menjawab.

Mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tersebut sepakat,  bahwa seni tradisional tidak boleh mati ! Maka mereka ini meleburkan diri di dalamnya. Jurusan seni tari yang mereka ambil, mengajarkan seni tari pyur seni. Artinya, mereka khusus memperlajari seni tari, tanpa embel-embel lainnya.

‘’Karena kalau misalnya mau menjadi guru (tari) harus kuliah lagi untuk mengambil sertifikat pendidik,’’ ujar Galuh.

Bagi cewek asal Kecamatan Parengan, Tuban ini, seni tradisional sudah mendarah daging padanya. Lahir dari keluarga seniman menjadikan dia cinta dengan kesenian tradisional. Ayahnya seorang pemain karawitan. Begitu pula dengan kakak-kakaknya.

‘’Karena sudah banyak yang di karawitan, saya mengambil jurusan tari,’’ tuturnya.

Hal yang sama disampaikan Lilis. Cewek asal Kecamatan Bangilan ini  mengaku sudah gandrung seni tradisional sejak kecil, padahal dia bukan lahir dari keluarga seniman. Meski demikian, kepercayaan dari orang tuanya dengan mengizinkan dia menekuni dunia tari, membuatnya mantap untuk menempuh hidup di jalur seni.

‘’Kami tak takut dibilang kuno. Kami justru bangga bisa ikut nguri-nguri budaya bangsa,’’ ujar lulusan SMAN Jatirogo ini.

Begitu juga dengan Lifah. Di antara mereka bertiga, Lifah yang paling senior karena dia kakak tingkat Lilis dan Galuh. Dara asal Kecamatan Kenduruan itu mengaku ingin membuktikan diri bahwa seni itu asyik dan juga bisa membuka jalan rejeki. Karena itu, meski keluarganya bukan seniman, namun mereka didukung.

’’Kami ingin membuktikan bahwa kehidupan seniman itu tidak seperti yang mereka kira. Selama ini kan dicap negatif,’’ ungkapnya.

Tiga dara ini mengaku sudah tak terhitung lagi tampil di depan publik unjuk kemampuannya menari. Biasanya, mereka pentas di acara-acara pernikahan atau acara yang mengundang mereka tampil. Tentu saja tidak gratis untuk mengundang mereka tampil. Hanya, mereka tidak mau menyebutkan honornya. Bagi mereka, bisa tampil di muka umum merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri.

‘’Karena jerih payah kita dihargai. Sebab, latihan yang dilakukan juga tidak ringan,’’ sela Galuh.

Dia menyebut, selama masuk di ISI, berat badannya turun tiga kilogram dari berat badan semula. Hal itu disebabkan karena latihan keras yang harus dia lakoni. Pagi, harus joging dan pemanasan.

‘’Juga ada rol depan, rol belakang serta gerakan-gerakan lainnya sebelum masuk ke gerakan inti tari. Jadi, lumayan turun tiga kilo,’’ katanya lantas tergelak.

Karena itu, ketiganya sepakat setelah lulus kuliah  akan terus mengembangkan tari tradisional. Sudah banyak mengusai gerakan-gerakan tari tradisional yang merupakan warisan leluhur tersebut. Itu bekal mereka kelak untuk mewariskan tari tradisional kepada para penerusnya.(*)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *