Tanah Desa Diserobot, Warga Bentrok dengan Pemilik Lahan

oleh -
REBUTAN : Warga Berusaha Menghalangi Orang Suruhan Pemilik Tanah yang Akan Merobohkan Spanduk

TUBAN

Penulis: M. Rizqi

Link Banner

Lenterakata.com – Karena tanah desa yang berstatus tanah negara diserobot orang lain, puluhan warga Desa Karangasem, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Kamis (17/10/2019) terlibat bentrok.

Puluhan warga yang sebagian besar pemuda tersebut berusaha mempertahankan tanah desa. Sedang seseorang yang mengaku sebagai pemilik tanah melawan.

Dia melalui sejumlah orang yang mendampinginya, berusaha mencabuti patok batas tanah dan spanduk yang dipasang warga.

Sengketa tanah itu bermuka saat warga memasang patok batas tanah dan spanduk di area Bendungan Kedung Kiter desa setempat yang akan dibangun warung wisata.

Warung wisata yang akan dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) itu rencananya akan menggunakan lahan seluas 2.500 meter persegi.

Untuk keperluan pembangunan warung wisata, warga sudah menguruk lahan tersebut. Saat pengurukan terjadi, ada seseorang yang mengaku sebagai pemilik tanah. Dia adalah Rumisih warga Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak.

Pemilik tanah bersikukuh mempertahankan tanah bendungan itu agar tidak dimanfaatkan oleh warga. Sebab, tanah tersebut diakui sebagai miliknya. Karena telah dibeli dari perangkat desa seharga Rp 5 juta sekitar 2012 lalu.

Sebelum terjadi cekcok dan nyaris baku hantam, Rumisih menunjukkan semua bukti dokumen-dokumen dan surat-surat kepada warga bahwa tanah di area bendungan Kedung Kiter itu telah sah dibelinya sejak tahun 2012 lalu.

“Ini buktinya bahwa tanah ini sudah saya beli tahun 2012 lalu dari perangkat Desa Karangasem,” ujarnya saat di lokasi.

Setelah menunjukkan bukti-bukti tersebut, pemilik tanah langsung menyuruh beberapa orang yang bersamanya agar mencabut patok yang dipasang oleh warga desa tersebut.

“Saya punya bukti tanah ini adalah milik saya, sehingga saya ingin patok ini dicabut,” kata  Rumisih ngotot.

Sementara itu, salah satu warga Pujiarto, juga tak mau kalah. Dia mengatakan jika tanah bendungan ini akan dimanfaatkan oleh warga sebagai tempat wisata. Sehingga sempat terjadi saling dorong antara warga dengan orang suruhan pemilik tanah.

Warga heran karena tanah itu diakui sudah dibeli. Padahal, sesuai aturan, tanah bendungan yang statusnya sebagai tanah negara (TN) yang tidak boleh diperjualbelikan.

“Patok yang kami pasang ini tetap akan kita pertahankan,” jelas pria yang juga sebagai Komisaris BUMDes Karangasem tersebut.

Karena tak ada titik temu di lokasi, sejumlah warga mengajak pemilik tanah untuk ke balai desa. Mereka ingin mencari kejelasan dan musyawarah bersama kepala desa dan perangkat desa, apakah benar tanah tersebut sudah dijual.(wie)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *