Sembahyang King Thi Kong di Klenteng Hok Tik Bio

oleh -
LAMPION : Ratusan Lampion di Klenteng Hok Tik Bio Blora

*Akulturasi Budaya Nan Menyejukkan

BLORA
Penulis : Teguh
Lenterakata.com – Komunitas Tionghoa di Kabupaten Blora,Jawa Tengah menyambut sukacita tahun baru Imlek 2571 yang jatuh pada (25/2/2020) lalu.

Link Banner

Mereka memohon ketentraman untuk menjalani Tahun Tikus Logam ini dan melanjutkan dengan sembahyang King Thi Kong (meja tinggi).

King Thi Kong digelar pada hari ke sembilan bulan pertama tahun baru. Warga etnis Tionghoa di Blora melakukannya di Klenteng Hok Tik Bio, Sabtu (1/2/2020).

Pengurus Klenteng Hok Tik Bio Blora, Bambang Suharto, mewakili Ketua Yayasan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Tik Bio Blora, Budilistijo Suboko menjelaskan, sembahyang King Thi Kong adalah salah satu acara besar dan penting di lingkungan klenteng.

“Sembahyang ini dimaknai sebagai penghormatan dan syukur kepada Tian/Thi Kong/Tuhan Allah atas segala rahmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita umat manusia,” jelasnya di Blora, Minggu (2/2/2020) malam.

Karena itu, kata dia, banyak umat yang secara singkat menyebutnya sebagai Sembahyang Tuhan Allah. Sembahyang ini dilaksanakan mulai pukul 23.00 – 01.00 WIB dini hari di Klenteng atau Vihara.

“Sebelumnya juga melakukan puasa dan berpantang melakukan kebiasaan atau kesenangan sehari-hari,” ungkapnya.

“Termasuk pantang makanan berjiwa ataupun tindakan lain yang bermakna membersihkan diri sebelum bersembahyang,” susul dia.

Menurutnya, banyak cerita kuno tentang peristiwa “keajaiban” yang diyakini sebagai “karunia Thi Kong/Tuhan” yang kemudian melahirkan tradisi untuk melakukan peringatan King Thi Kong.

“Hampir semua umat Klenteng atau Vihara melakukan peringatan King Thi Kong. Mengenai jumlahnya tentu relatif, tergantung jumlah komunitas umat di suatu Klenteng/Vihara,” kata Bambang Suharto.

Dikatakannya, komunitas Tionghoa, khususnya di Blora, masih cukup banyak yang melakukan “Sembahyang Tuhan Allah” ini meskipun mereka bukan beragama Buddha ataupun Konghucu.

“Lebih kepada tradisi dari leluhur yang masih dipertahankan meski memaknainya dalam kadar yang berbeda dan dilakukan di rumah sendiri,” tuturnya.

Di Klenteng Hok Tik Bio Blora, menurut Bambang, hanya umat simpatisan saja yang mengikuti acara sembahyang King Thi Kong.

“Hampir semuanya adalah warga Blora, karena jarang pendatang dari luar kota yang khusus datang untuk bersembahyang,” jelasnya.

Pada waktu yang akan datang, lanjut Bambang, dia yakin semakin banyak umat yang datang beekunjung dan beribadah.

Hal itu seiring dengan kemajuan pembangunan Klenteng Hok Tik Bio dan perkembangan daerah Blora.

Ada yang menarik perhatian masyarakat, yakni suguhan seni karawitan yang ditampilkan oleh siswa SD Kartini Blora.

“Sejatinya sudah berpuluh tahun suguhan karawitan ditampilkan apada acara King Thi Kong di Klenteng Hok Tik Bio Blora,” bebernya.

Menurut dia, karawitan mengesankan suasana yang tenang. Dan Klenteng Hok Tik Bio dahulu mempunyai grup karawitan sendiri. Grup itu rutin mengadakan latihan di Klenteng dipimpin Ibu Tan Hong Lie (sekarang berusia 93 th).

Anggotanya karawitan berbaur guyub terdiri dari keturunan Tionghoa dan Jawa serta berangkat dari keyakinan yang berbeda pula.

“Sekarang group karawitan itu bubar karena banyak anggotanya yang sudah tua, bahkan meninggal dunia,” kata Bambang Suharto.

Keterlibatan SD Kartini dalam mendukung kegiatan Klenteng Hok Tik Bio, lanjutnya, juga telah berjalan lama, seperti group wushu, karawitan dan kesenian Liong Barongsai.

“Prinsipnya di lingkungan Klenteng Hok Tik Bio Blora mengedepankan kebersamaan, tidak boleh ada pembedaan yang mengarah kepada sikap intoleran,” tandasnya.

Dalam keterbatasan yang ada, Klenteng Hok Tik Bio akan selalu berupaya untuk melakukan hal-hal yang positif dan melestarikan tradisi luhur yang dpt dipertanggungjawabkan untuk kebaikan dan kebajikan.

Acara paling akkhir pada Imlek 2571 yakni sembahyang Cap Go Meh, Sabtu (8/2/2020). Seperti dalam puncak Tahun Baru Imlek, dalam Cap Go Meh juga akan ditampilkan atraksi Liong dan Barongsai.

“Dalam Imlek ini kita berharap, persatuan kita sebagai Bangsa Indonesia akan semakin kokoh dan semakin erat. Mari kita sama-sama bersatu untuk memajukan bangsa ini,” ajaknya.

Sementara itu, Prasetyo, salah seorang warga Gedongsari Kecamatan Banjarejo, sangat mengapresiasi penampilan seni karawitan dari SD Kartini Blora.

“Menarik, karena masih ada generasi milenial yang mau belajar dan mempertahankan seni tradisional yang adi luhung. Apalagi juga ada alkulturasi budaya seperti Liong Barongsai,” katanya. (wie).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *