Kawah Lumpur Kesongo Meletus, Lumpur Muncrat Setinggi 70 Meter

oleh -

BLORA
Penulis : M.Rizqi
Lenterakata.com – Kawah lumpur panas Kesongo di Dukuh Sucen, Desa Gabusan, Kecamatan Jati meletus tiga kali. Letusan pertama terjadi sekitar pukul 05.30 WIB. Lalu pukul 06.30, dan 13.00, Kamis (27/8/2020).

Ketinggian letusan di lokasi yang juga dijadikan wisata geologi itu mencapai 70 meter dengan durasi masing-masing 10 hingga 20 menit.

Link Banner

Letusan-letusan tersebut mengakibatkan 18 kerbau ternak tertimbun lumpur setinggi lima meter. Hanya satu ekor berhasil diselamatkan.

Kerbau-kerbau itu akhirnya dibiarkan tertimbun karena tidak mungkin dievakuasi. Selain itu, empat warga juga keracunan, namun tak sampai meninggal.

Empat warga keracunan karena menghirup gas belerang akibat letusan itu saat menyelamatkan kerbau-kerbau ternak mereka.

Kerbau-kerbau lainnya berlarian masuk hutan sebelum akhirnya berhasil ditemukan pemiliknya lagi.

Lokasi yang juga sering disebut dengan “Oro-oro Kesongo” itu memang setiap harinya menjadi lokasi favorit warga sekitar untuk beternak.

Ada ratusan kerbau yang diternak dan ditinggal di situ. Mereka merasa aman karena sebelum terjadi letusan selalu ada tanda-tanda.

Dari amatir video yang beredar, puluhan warga tampak berhamburan dari lokasi kejadian saat terjadi letusan kedua dan ketiga kalinya.

Ada yang bersepeda motor, sebagian jalan kaki. Sebagian warga memang nekat mendekat ke jarak beberapa puluh meter saja dari lokasi letusan.

Beruntung, karena warga segera menjauh, tidak ada laporan warga keracunan lagi.

Hingga sore, puluhan warga setempat masih berada di lokasi untuk menonton aktivitas sekitar kawah.

Parsidi Kades Gabusan menerangkan, masih ada suara-suara dari tanah yang membuat warga memprediksi masih mungkin terjadi letusan lagi.

Kades tiga periode itu mengatakan, baru kali ini tidak ada tanda-tanda apa pun sebelum terjadinya letusan.

Sebab, sebelum-sebelumnya selalu ada tanda-tanda semacam suara dari tanah. Sehingga, warga masih sempat menyelamatkan tenak-ternaknya.

”Letusan musiman ini sebenarnya. Setahun dua kali, tapi biasanya kecil-kecil dan ada tandanya. Kali ini tidak ada tanda-tanda dan letusannya besar,” tutur Kades.

Gas letusan Kesongo mengandung metan, sulfur dan karbon. Kasi Geologi Cabang Dinas ESDM Kendeng Selatan Biro Blora Budi Setiawan mengungkapkan, kandungan gas akibat letusan tersebut ada beberapa macam.

Antara lain yakni gas metan, sulfur, dan karbon.
”Kalau konsentrasinya tinggi ya memang berbahaya,” ucapnya.

Budi menerangkan, kawasan tersebut memang sudah sering terjadi letusan gas kecil-kecil. Bahkan, setidaknya sejak 30 tahun lalu, letusan-letusan setinggi satu meter sudah biasa terjadi.

Sehingga, warga setempat pun merasa aman dengan adanya letusan tersebut.

”Itu ada beberapa titik. Dari 30 tahun lalu juga sudah ada kejadian seperti itu. Seperti yang ada di Bledug Kuwu di Grobogan itu,” terangnya.

Meski begitu, dari pihak Pemprov Jateng sejauh ini belum ada penelitian terkait kandungan gas yang dihasilkan dari letusan-letusan itu. Hanya, yang pasti, kandungan gas dari letusan itu memang berbahaya bagi tubuh.

”Kesehariannya kan seperti itu, tidak seperti yang terjadi kali ini. Jadi, masyarakat sekitar sudah punya mitigasi,” tambah dia.

Biasanya, letupan itu memang tidak lebih dari dua meter. Selain itu, masyarakat yang berada di dekat juga bisa mendengar gas-gas sebelum meletup.

Sehingga, masyarakat pun menganggapnya sebagai aktivitas biasa.

”Masyarakat menanggapnya kejadian alamiah, bukan karena akibat tangan manusia,” kata dia.(wie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *