Begini Upaya Tangkal Paham Radikal ala IMM Jatim

oleh -
TANGKAL FAHAM RADIKAL : Diskusi IMM Jawa Timur untuk Upaya Menangkal Faham Radikal di Kalangan Generasi Muda

MALANG

Penulis : M.Rizqi

Link Banner

Lenterakata.com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur  kembali menggelar kegiatan untuk menyampaikan pesan pentingnya menjadi pribadi moderat khususnya dalam beragama.

Sehingga tidak terpapar paham radikalisme atau teror. Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk talk show Cangkru’an dengan mengambil tema “Milenial Bicara Perdamaian” Selasa (24/2/2021) di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institut A. Malik Fajar Malang.

Kegiatan menghadirkan narasumber Subhan Setowara Direktur Eksekutif RBC Institute, Ustadz Pujianto (mantan Napiter asal Malang) dan Nafik Muthohirin Peneliti Equal Acces. Diskusi dimoderatori Randi S. Latulumamina, pengurus DPD IMM Jatim.

Di sesi awal obrolan, Ustad Pujianto menceritakan awal bagaimana ia bisa bergabung dengan kelompok teror. Pemicu utamanya adalah faktor rasa solidaritas sesama umat Islam khususnya yang ada di Palestina.

Sewaktu sekolah di SMA, dia mengaku sangat tertarik dan terinspirasi dengan HTI pada waktu itu. Karena doktrinnya bahwa semua permasalahan umat yang ada bisa dijawab dengan konsep khilafah.

Namun akhirnya ia baru menemukan wadah yang dia anggap dapat meralisasikan keinginan dalam perjuangan solidartas sesama muslim pada tahun 2012 / 2013 saat adanya deklarasi ISIS.

Ustad Pujianto bergabung dengan kelompok Jamaah Anshorut Daulah (JAD) di Ciamis.  Ia akhirnya ditangkap aparat keamanan kerena kepemilikan senjata api yang rencananya akan digunakan untuk jihad amaliyah.

Selama bergabung dengan kelompok teror tersebut, dia baru paham jika konsep bermadzab dalam ibadah ataupun yang lain harus sama. Sehingga jika ada berbeda maka dianggap salah.

“Bahkan pemahaman mereka, orang yang tidak sesuai dengan aqidah maka berhak diambil hartanya meskipun orang tersebut islam,” jelas Ustad Pujianto.

Namun akhirnya Ustad Pujianto mengalami titik balik pemahaman cara beragama selama di dalam penjara. Dalam penjara tersebut ia berinteraksi dan menemukan banyak perbedaan pandangan dengan para napi lain.

Hal itu membuat ia sadar bahwa perlunya memperbanyak referensi dan wawasan sehingga tidak terbelenggu dengan satu pendapat yang di anggap mutlak benar.

“Bahwa apa yang saya pahami adalah bagian ijtihad yang tidak mengikat, dan tidak boleh saya paksakan terhadap orang lain” terangnya.

Oleh karena itu Ustad Pujianto berpesan agar berhati hati terhadap sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam mengaku kelompoknya saja yang terbaik dan kelompok Islam lain jelek.

Ia juga menekankan kepada generasi muda agar terbuka pemikiran dan wawasannya dalam belajar dengan banyak sumber sehingga ilmunya tidak sepotong potong atau parsial.

Pemateri lain, Subhan Setowara menjelaskan dalam diskusi tersebut bahwa genarasi muda atau milenial di Indonesia merupakan generasi yang secara psikologis sangat potensial produktif, berkiprah dan berambisi.

“Namun di sisi lain mereka juga  paling rentan sehingga ada kelemahan. Misalnya mereka mudah bimbang, disorientasi sehingga jika ada hal baru datang dan solidaritas yang kuat mereka cenderung akan mengikuti dan mudah terprovokasi,” paparnya.

Dengan demikian ia berpesan agar genarasi muda memperbanyak literatur sehingga menjadi cerdas berwawasan. Selain itu juga harus di pahami perkembangan dewasa ini bahwa algoritma media sosial saat ini banyak narasi narasi hoaxs dan kebencian.

Sehingga tugas generasi cerdas berwawasan adalah membuat gerakan yang nyata untuk melawan itu semua.

Sementara itu Nafik Muthohirin Peneliti Equal Acces dalam penyampaiannya menekankan bahwa menyasarnya penyebaran paham radikal pada kaum muda atau milenial merupakan dampak literasi digital. Anak-anak muda lebih memilih mencari sumber ilmu dari internet.

“Orang dahalu ngaji langsung ke kiai NU atau muhammadiyah, nah sekarang anak-anak muda banyak yang ngajinya di youtube dan lainnya,’’ kata Nafik.

Selain itu, faktor lain genarasi muda mudah terpapar paham radikalisme teror yakni terkait dengan keilmuan yang minim, masalah ekonomi, dan faktor dominan adalah ikatan solidaritas antar umat islam.

Nafik juga berpesan bahwa sangat penting untuk memperbanyak ruang yang bisa mempertemukan para generasi muda lintas agama, suku budaya dan berkumpul menjadi satu membicarakan persatuan dan perdamaian.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *