Berharap Pembelajaran Tatap Muka di Blora Dimulai

oleh -
TERBATAS : Pembelajaran Tatap Muka Terbatas sudah Mulai Dijalankan. Diharapkan Diperluas

BLORA

Penulis : Supriyanto

Link Banner

Lenterakata.com – Terlalu lama belajar di rumah membuat jenuh siswa. Bahkan, ada siswa yang justru meninggalkan belajarnya dan bekerja.

Hal itu disampaikan Bupati Blora Arief Rohman. Bupati mengungkapkan ia menerima laporan adanya siswa yang putus sekolah akibat terlalu lama berada di rumah.

“Ternyata laporan dari teman-teman ada beberapa sekolah yang siswanya sudah kerja putus sekolah, dan sebagainya karena terlalu lama di rumah,’’ ujar Arief Rohman, Senin (5/4/2021).

Menurutnya, ada dampak negatif yang terjadi selama para siswa melakukan pembelajaran secara daring di rumah.

“Nah ini temuan yang baru, ternyata dampak dari belajar di rumah ini ada dampak yang tidak baik juga, karena keasyikan di rumah terus bekerja, ketika disuruh sekolah lagi enggak mau,” terangnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Arief meminta instansi terkait untuk mendata dan menindaklanjuti sejumlah sekolah yang siswanya memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan.

“Nah nanti kita minta diknas, sekolah-sekolah untuk mendata. Jadi kasusnya ada berapa, sebabnya apa, kita harus kaji,” kata dia.

Sementara itu, salah seorang guru yang membidangi kurikulum di SMPN 1 Todanan, Blora, Yeni Kurniawati menyebut anak didiknya yang putus sekolah akibat pandemi jumlahnya mencapai 9 siswa.

“Iya benar putus sekolah, mulai dari tahun ajaran ini. Berarti mulai dari Juli sampai hari ini,” ucap Yeni Kurniawati.

Yeni merinci kesembilan siswa tersebut terdiri kelas 7 ada dua orang, kelas 8 ada lima orang dan kelas 9 ada 2 orang. Dengan rincian 5 siswi dan 4 siswa.

“Untuk kelas 9, yang putus sekolah ada dua orang, yang satu menikah, yang satunya merantau ke Jakarta,” katanya.

Sementara untuk peserta didik kelas 8, tiga siswi disekolahkan oleh orang tuanya ke pondok pesantren.

“Nah kelas 8, yang dua orang itu kabar malah ikut punk, jadi dia itu jarang pulang ke rumah. Kami juga sudah ke rumahnya, ada satu yang tidak ikut orang tua mungkin orang tuanya merantau. Dan dilaporkan oleh teman-temannya ikut punk. Sering ikut bis-bis, truk-truk pakai pakaian punk’,” jelasnya.

Sementara untuk kelas 7, seorang siswa memilih ikut pindah orang tuanya ke suatu tempat. Dan satunya lagi memang sudah tidak berkeinginan untuk melanjutkan sekolah.

“Berhubung pembelajaran jarak jauh dan tidak mau mengerjakan tugas dan kami sudah melakukan pendekatan ternyata dia memang tidak mau sekolah,” ungkap dia,

Yeni mengungkapkan pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah anak didiknya agar tidak putus sekolah. Sebab data mereka sudah dimasukkan ke dapodik (data pokok pendidikan).

Namun, berhubung usahanya tidak membuahkan hasil, maka pihaknya memanggil wali murid untuk menandatangani surat pernyataan menarik peserta didik dari sekolah.

“Sehingga data mereka dikeluarkan dari dapodik sesuai dengan pernyataan hitam di atas putih,” katanya.

Selain itu, Yeni mengaku sudah melaporkan adanya 9 siswa yang putus sekolah ke Dinas Pendidikan Kabupaten Blora untuk segera ditindaklanjuti.

“Alasan kami memberitahukan adanya siswa yang putus sekolah, agar sekolah segera dibuka,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *