Tiongkok: kebijakan ekonomi baru ditargetkan menstabilkan pertumbuhan hingga 2026

  • Tiongkok menyiapkan kebijakan ekonomi yang lebih proaktif untuk menahan perlambatan, sambil menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan struktural.
  • Pidato internal Presiden Xi Jinping menekankan target pertumbuhan “sekitar 5%” untuk 2025 dan dorongan agar kualitas pertumbuhan meningkat tanpa mengorbankan laju yang “wajar”.
  • Rangkaian ekonomi baru menempatkan konsumsi domestik sebagai mesin utama, termasuk program tukar tambah barang konsumsi yang didukung dana obligasi khusus.
  • Dari sisi investasi, pemerintah menyiapkan proyek konstruksi besar yang dibiayai anggaran pusat, sebagai jangkar bagi pertumbuhan ekonomi ketika properti melemah.
  • Paket kebijakan fiskal dan moneter yang terukur—termasuk penguatan permodalan bank besar dan penanganan risiko utang daerah—dibaca pasar sebagai sinyal keberlanjutan.
  • Efek rambatan global muncul lewat sentimen komoditas dan saham, mengingat Tiongkok adalah konsumen logam terbesar di dunia.

Di penghujung 2025, sinyal dari Beijing terdengar jelas: perekonomian Tiongkok ingin bergerak maju di bawah tekanan, tetapi dengan cara yang lebih rapi, terukur, dan tahan guncangan. Dalam forum internal partai pada jamuan Tahun Baru, Presiden Xi Jinping menegaskan optimisme bahwa target pertumbuhan “sekitar 5%” masih dapat dicapai, sekaligus mengakui adanya tantangan yang menekan daya beli rumah tangga, memicu deflasi, dan memperpanjang penyesuaian sektor properti. Di sinilah arah politik ekonomi terbaru menjadi penting: bukan sekadar “menambah gas” lewat stimulus besar, melainkan membangun kombinasi instrumen yang lebih presisi untuk menjaga stabilitas ekonomi hingga 2026.

Bagi pembaca di Indonesia, kebijakan ini terasa dekat karena setiap perubahan ritme ekonomi Tiongkok memengaruhi harga komoditas, arus modal, hingga ekspor kawasan. Saat investor global menimbang ulang risiko, Beijing mempromosikan narasi ketahanan: ukuran ekonomi yang kian besar, ruang fiskal yang diolah lewat obligasi, dan kebijakan moneter yang menambah dukungan likuiditas namun tetap mengawasi risiko. Strategi ini menempatkan konsumsi dan investasi produktif sebagai penopang, sambil menata ulang sektor properti dan utang daerah. Pertanyaannya bukan “apakah Tiongkok akan tumbuh?”, melainkan “bagaimana cara tumbuh yang membuat ekonomi berkelanjutan menjadi mungkin?”

Tiongkok Menetapkan Arah Kebijakan Ekonomi Baru: Menjaga Target Ekonomi Sambil Mengerek Kualitas

Pernyataan Xi Jinping bahwa ekonomi diperkirakan mencapai target pertumbuhan sekitar 5% pada 2025 sekaligus menjadi panggung untuk menegaskan tujuan yang lebih luas: pertumbuhan ekonomi perlu tetap “wajar” secara kuantitatif, tetapi harus lebih baik dari sisi kualitas. Ukuran ekonomi yang disebut mendekati 140 triliun yuan (sekitar US$20 triliun) memperlihatkan skala yang membuat perubahan kecil pada konsumsi, investasi, atau kredit bisa bergema ke seluruh dunia. Dalam konteks ini, kebijakan ekonomi yang “lebih proaktif” bukan berarti tanpa rem, melainkan lebih cepat merespons gejala pelemahan sebelum berubah menjadi spiral.

Garis besarnya, Beijing ingin menyeimbangkan tiga lapis target sekaligus: menjaga laju ekspansi, melindungi harmoni sosial, dan mengurangi sumber ketidakstabilan finansial. Tantangan yang disebut berulang oleh banyak pelaku pasar—konsumsi yang belum pulih, deflasi yang menggerus insentif bisnis, serta krisis properti—mendorong pemerintah menata prioritas kebijakan ke arah permintaan domestik. Ini adalah pergeseran penting: ketika ekspor tidak selalu bisa diandalkan karena dinamika geopolitik dan tarif, fondasi internal harus lebih kokoh.

Kasus kecil yang menjelaskan logika besar: keluarga Li dan keputusan belanja

Bayangkan keluarga fiktif Li di kota tier-2. Selama dua tahun, mereka menahan belanja besar karena harga rumah turun dan prospek kerja tidak secerah dulu. Dalam situasi deflasi ringan, mereka cenderung menunda pembelian barang tahan lama karena berharap harga makin murah. Dampaknya, toko elektronik menurunkan stok, pabrik mengurangi jam kerja, dan lingkaran menahan pertumbuhan terjadi. Ekonomi baru yang dirancang Beijing mencoba memutus pola ini: bukan hanya dengan “menyerukan konsumsi”, melainkan memberi insentif yang membuat keputusan belanja terasa rasional hari ini—misalnya program tukar tambah.

Di titik inilah kebijakan fiskal yang diarahkan secara spesifik menjadi relevan. Ketika insentif diberikan untuk mengganti perangkat lama dengan yang lebih hemat energi, pemerintah menggabungkan tujuan jangka pendek (menggerakkan permintaan) dengan tujuan struktural (efisiensi energi, produktivitas). Dampaknya juga sosial: sektor ritel dan manufaktur mendapat napas, sementara rumah tangga merasa memperoleh nilai tambah yang nyata.

Indikator yang dipantau: bukan sekadar angka PDB

Dalam kerangka politik ekonomi yang lebih modern, keberhasilan tidak hanya diukur dari PDB. Stabilitas harga, kualitas lapangan kerja, kesehatan neraca pemerintah daerah, dan kepercayaan konsumen menjadi variabel yang menentukan. Sejumlah negara juga menghadapi isu serupa: bagaimana meredam dampak guncangan tanpa membiarkan utang melonjak tanpa kendali. Indonesia pun bergulat dengan tantangan menyeimbangkan pertumbuhan dan ketahanan, sebagaimana tergambar dalam diskusi mengenai arah pertumbuhan ekonomi Indonesia dan agenda kebijakan lintas sektor.

Pada akhirnya, narasi resmi Beijing menekankan “bergerak maju di bawah tekanan” dengan ketahanan. Itu bukan slogan kosong ketika diikuti instrumen konkret—dan bagian berikutnya mengurai instrumen konsumsi yang menjadi salah satu jangkar utama. Insight penutupnya: target ekonomi di Tiongkok kini semakin ditopang oleh desain kebijakan yang mengubah perilaku, bukan hanya menambah angka belanja negara.

tiongkok memperkenalkan kebijakan ekonomi baru yang bertujuan menstabilkan pertumbuhan ekonomi hingga tahun 2026, menciptakan lingkungan yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Stimulus Konsumsi dan Program Tukar Tambah: Mesin Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Merata

Salah satu komponen paling “membumi” dari kebijakan ekonomi Tiongkok adalah mendorong konsumsi rumah tangga dengan alat yang langsung menyentuh keputusan belanja. Pemerintah pusat mengarahkan dana hasil penerbitan obligasi khusus negara—dilaporkan sekitar 62,5 miliar yuan—untuk disalurkan ke pemerintah daerah dan dipakai membiayai program tukar tambah barang konsumsi. Secara desain, skema ini bukan hanya diskon; ia adalah cara mempercepat siklus penggantian barang, mengangkat permintaan, dan memberi ruang bagi industri untuk memperbarui lini produk.

Ada alasan mengapa program semacam ini dipilih. Ketika sektor properti melemah, efek penggandanya mengecil: pembelian rumah baru turun, aktivitas konstruksi melambat, dan belanja terkait rumah ikut menurun. Menggantinya dengan konsumsi barang tahan lama—seperti peralatan rumah tangga hemat energi, kendaraan, atau perangkat digital—membantu menyebarkan dampak ke banyak rantai pasok, dari pabrik komponen hingga ritel di kota-kota kecil.

Bagaimana skema ini bekerja di level daerah

Di level pemerintah kota, dana pusat biasanya dipadukan dengan anggaran lokal dan kemitraan ritel. Misalnya, sebuah kota memberi kupon tambahan bila warga menukar AC lama yang boros listrik dengan model baru yang lebih efisien. Toko ritel mendapat volume penjualan, produsen mendapat kepastian permintaan, dan pemerintah memperoleh manfaat ganda: konsumsi naik dan efisiensi energi meningkat. Pertanyaan retorisnya: jika konsumen ragu belanja karena prospek pendapatan, apa yang lebih meyakinkan daripada insentif tunai yang langsung mengurangi harga efektif?

Di sini pula upaya menaikkan pendapatan masyarakat menjadi penting. Kebijakan tidak berdiri sendiri; ia berjalan beriringan dengan agenda memperbaiki pasar kerja dan perlindungan sosial. Pemerintah juga menyoroti dukungan pada kelompok tertentu—misalnya bantuan sekali waktu bagi warga yang membutuhkan dan peningkatan beasiswa mahasiswa—agar daya beli tidak hanya terkonsentrasi di kota besar.

Daftar tujuan yang ingin dicapai melalui dorongan konsumsi

  • Menahan deflasi dengan menciptakan permintaan yang cukup sehingga pelaku usaha tidak terus-menerus memotong harga.
  • Mengurangi ketergantungan pada properti dan ekspor sebagai penopang utama.
  • Mempercepat modernisasi produk rumah tangga (lebih hemat energi, lebih digital) agar produktivitas naik.
  • Memperluas pemerataan karena program daerah dapat menjangkau kota kecil dan wilayah non-pesisir.

Koneksi regional: bagaimana Indonesia ikut terdampak

Ketika konsumsi Tiongkok pulih, impor bahan baku dan komponen tertentu bisa ikut meningkat, dan ini punya implikasi bagi mitra dagang. Pada saat yang sama, negara-negara termasuk Indonesia menyiapkan strategi menghadapi perubahan permintaan dan standar industri. Pembaca yang mengikuti diskusi kebijakan perdagangan dapat melihat relevansinya melalui ulasan strategi dagang Indonesia menuju 2026, terutama saat rantai pasok Asia beradaptasi.

Insight penutupnya: jika investasi infrastruktur adalah “jangkar”, maka konsumsi adalah “arus”. Beijing tampak ingin memastikan arusnya kembali mengalir—dan setelah konsumsi, logika berikutnya adalah memastikan investasi yang dipilih benar-benar memperkuat fondasi pertumbuhan, bukan sekadar menambah kapasitas yang tak terpakai.

Peralihan dari konsumsi ke investasi sering terjadi dalam siklus kebijakan Beijing, dan kini investasi diarahkan lebih selektif dengan proyek yang dinilai mampu memperkokoh produktivitas.

Investasi Infrastruktur dan Proyek Konstruksi: Menjaga Stabilitas Ekonomi Saat Properti Menyesuaikan

Di tengah penyesuaian sektor properti, Tiongkok mengandalkan investasi publik yang lebih terarah untuk menjaga stabilitas ekonomi. Badan perencana negara merilis rencana investasi awal, termasuk dua proyek konstruksi besar yang dibiayai anggaran pusat sekitar 295 miliar yuan. Angka ini memberi sinyal bahwa pemerintah tetap bersedia menjadi “pembeli terakhir” untuk proyek strategis—namun dengan pendekatan yang lebih disiplin dibanding era stimulus masif terdahulu. Tujuannya bukan sekadar mengangkat PDB, melainkan memperbaiki konektivitas, menurunkan biaya logistik, dan menyiapkan kapasitas bagi industri masa depan.

Alasan pendekatan ini dianggap penting adalah karena investasi publik punya efek cepat pada lapangan kerja dan permintaan bahan baku. Ketika proyek berjalan, rantai pasok semen, baja, mesin, hingga jasa teknik bergerak. Namun pemerintah juga belajar: infrastruktur yang tidak tepat sasaran bisa menciptakan beban utang daerah dan aset yang tidak produktif. Maka, di bawah payung politik ekonomi terbaru, investasi diarahkan untuk menjadi penopang ekonomi berkelanjutan, bukan sekadar pengungkit jangka pendek.

Studi kasus: koridor logistik dan dampaknya ke biaya hidup

Ambil contoh hipotetis sebuah koridor logistik baru yang menghubungkan kawasan industri dengan pelabuhan sungai. Ketika waktu pengiriman turun 15–20%, pabrik bisa mengurangi stok menganggur dan menekan biaya. Efeknya bisa merembet ke harga barang konsumsi di kota, membantu meredam tekanan biaya hidup. Bila konsumsi sedang dipacu lewat program tukar tambah, biaya logistik yang lebih rendah membuat produsen lebih mampu menawarkan harga kompetitif tanpa mengorbankan margin.

Poin ini sering luput dari perdebatan yang hanya fokus pada “berapa triliun” belanja negara. Yang lebih menentukan adalah produktivitas yang dihasilkan. Infrastruktur yang mempercepat arus barang, energi, dan data akan menguatkan daya saing industri, termasuk manufaktur berteknologi menengah yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor Asia.

Tabel ringkas: instrumen fiskal Tiongkok dan tujuan ekonominya

Instrumen
Contoh kebijakan
Tujuan dekat
Tujuan struktural
Obligasi khusus negara
Dana 62,5 miliar yuan untuk program tukar tambah
Mendorong belanja rumah tangga
Menggeser mesin pertumbuhan ke permintaan domestik
Anggaran pusat
Proyek konstruksi besar senilai 295 miliar yuan
Menyerap tenaga kerja dan menahan perlambatan
Menurunkan biaya logistik dan memperkuat produktivitas
Instrumen pajak & dana khusus daerah
Dukungan stabilisasi pasar properti
Mencegah gejolak sektor perumahan
Menata ulang model pembiayaan kota dan aset
Obligasi untuk perbankan
Penguatan modal inti bank besar milik negara
Menjaga penyaluran kredit dan daya tahan risiko
Mengurangi risiko sistemik dan memperbaiki transmisi kebijakan

Resonansi global: komoditas, pertambangan, dan sentimen kawasan

Karena Tiongkok adalah konsumen logam terbesar dunia, ekspektasi proyek dan permintaan industri sering mendorong optimisme di pasar komoditas. Kenaikan sentimen ini dapat mengangkat saham pertambangan global, juga memengaruhi pemasok di Asia Tenggara. Dalam konteks Indonesia, diskusi tentang komoditas dan dampak kebijakan bisa dibaca paralel dengan isu kuota dan hilirisasi, misalnya lewat bahasan dampak kuota batu bara dan nikel yang ikut membentuk dinamika pasokan regional.

Insight penutupnya: investasi publik Tiongkok bukan “pelarian” dari masalah properti, tetapi jembatan agar ekonomi tetap bergerak saat sektor lama menyesuaikan, sebelum mesin baru mengambil alih sepenuhnya.

Strategi Moneter PBOC dan Penguatan Perbankan: Menambah Dukungan Tanpa Melepas Pengendalian Risiko

Jika fiskal memberi dorongan melalui belanja dan proyek, maka sisi moneter memastikan sistem keuangan cukup longgar untuk menyalurkan kredit—tanpa memicu ketidakstabilan. Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) pada periode sebelumnya sempat mengumumkan kebijakan yang meningkatkan sentimen investor, dan pemerintah juga menyiapkan langkah penguatan permodalan bank besar milik negara melalui penerbitan obligasi khusus. Paket semacam ini menunjukkan cara Beijing bekerja: memberi dukungan likuiditas, tetapi menambal titik rapuh sistem agar transmisi kebijakan tidak bocor.

Dalam praktiknya, bank besar yang modal intinya lebih tebal akan lebih berani menyalurkan kredit ke sektor riil—industri manufaktur, logistik, teknologi, hingga UMKM—tanpa terlalu takut terhadap lonjakan kredit bermasalah. Ini penting ketika rumah tangga dan perusahaan cenderung berhati-hati. Di sisi lain, pemerintah juga ingin memastikan kredit tidak kembali menggelembungkan properti secara tidak sehat. Maka, dukungan moneter biasanya disertai panduan dan pengawasan yang lebih ketat terhadap aliran dana.

Kenapa penguatan bank besar relevan bagi pertumbuhan ekonomi

Bayangkan perusahaan komponen kendaraan listrik di provinsi pesisir yang membutuhkan pinjaman untuk memperluas kapasitas. Tanpa akses kredit yang stabil, perusahaan menunda ekspansi, pemasok tidak mendapat kontrak baru, dan pekerja tidak direkrut. Dengan bank yang lebih kuat, kredit mengalir lebih lancar sehingga aktivitas produksi tetap berjalan. Dampak akhirnya kembali ke konsumsi: pekerja yang dipekerjakan akan membelanjakan pendapatan, menutup lingkaran kebijakan yang diinginkan pemerintah.

Di sinilah kebijakan ekonomi menjadi orkestrasi lintas instrumen. Moneter mengatur biaya uang dan ketersediaan kredit, fiskal mengarahkan permintaan dan investasi, sementara kebijakan industri menandai sektor prioritas. Ketika tiga elemen ini sejalan, target ekonomi lebih mudah dijaga meski ada guncangan eksternal.

Manajemen risiko: utang daerah, properti, dan moral hazard

Salah satu fokus paket kebijakan yang banyak dibicarakan adalah memberi ruang bagi pemerintah daerah untuk mengelola risiko utang, termasuk melalui peningkatan batas utang dalam skala lebih besar dan pengaturan ulang beban. Tujuannya bukan mendorong belanja tanpa kontrol, melainkan mencegah pembiayaan daerah runtuh mendadak yang dapat memukul layanan publik dan kepercayaan pasar. Dalam waktu yang sama, instrumen pajak, obligasi khusus daerah, dan dana khusus dipakai untuk membantu stabilisasi properti agar penurunannya tidak menimbulkan efek domino ke sektor perbankan.

Logika kehati-hatian ini dapat dibandingkan dengan isu ketahanan finansial dan digital di negara lain. Indonesia, misalnya, tengah menguatkan lapisan keamanan dan tata kelola ekonomi digital, yang relevan ketika arus modal dan data makin terhubung; lihat diskusi penguatan keamanan siber Indonesia sebagai konteks bagaimana stabilitas modern tidak hanya soal inflasi, tetapi juga risiko sistemik baru.

Ekspektasi pasar dan pelajaran dari revisi proyeksi

Reaksi pasar pada periode pengumuman kebijakan sebelumnya memperlihatkan satu hal: ekspektasi sering bergerak lebih cepat daripada data. Ketika paket fiskal tambahan dijabarkan lebih rinci, sentimen di saham Asia menguat dan sejumlah lembaga menaikkan proyeksi pertumbuhan untuk tahun berjalan pada saat itu. Mekanismenya sederhana: bila pelaku pasar percaya pemerintah punya alat dan kemauan untuk menjaga stabilitas, premi risiko turun, biaya pendanaan lebih murah, dan investasi lebih mungkin terjadi.

Insight penutupnya: PBOC dan penguatan bank besar adalah “sistem sirkulasi” bagi agenda fiskal—tanpa sirkulasi yang lancar, stimulus konsumsi dan proyek infrastruktur tidak akan berdaya dorong maksimal.

Setelah fondasi domestik dijelaskan, dampak kebijakan ini meluas ke luar negeri—dari harga komoditas hingga strategi negara mitra yang harus beradaptasi.

Dampak Global dan Relevansi bagi Indonesia: Dari Komoditas hingga Arah Ekonomi Berkelanjutan

Setiap perubahan langkah perekonomian Tiongkok memengaruhi “kiblat” ekonomi dunia karena skala permintaan dan jejaring pasoknya. Ketika Beijing mendorong konsumsi dan investasi, pasar komoditas biasanya merespons lebih dulu: logam industri, energi, dan bahan baku manufaktur bergerak mengikuti ekspektasi. Negara pengekspor merasakan dampaknya melalui harga, sementara negara pengimpor menilai ulang biaya produksi. Bagi Asia, efeknya juga muncul pada nilai tukar dan arus portofolio, terutama saat investor global menyeimbangkan risiko geopolitik dan prospek pertumbuhan.

Dampak global tidak selalu linear. Misalnya, bila Tiongkok menahan diri dari stimulus jumbo dan memilih kebijakan terukur, kenaikan permintaan komoditas bisa lebih stabil tetapi tidak meledak. Ini dapat membantu negara pemasok merencanakan produksi dengan lebih rasional. Pada saat yang sama, Tiongkok juga mendorong investasi jangka panjang dan alat moneter baru, yang memberi sinyal bahwa agenda ekonomi berkelanjutan bukan sekadar slogan, melainkan kerangka kerja untuk beberapa tahun.

Kaitan dengan strategi Indonesia: perdagangan, digital, dan kota masa depan

Bagi Indonesia, pembacaan atas arah kebijakan Tiongkok membantu merancang prioritas ekspor, hilirisasi, dan kemitraan investasi. Jika konsumsi Tiongkok lebih didorong lewat barang yang lebih efisien energi dan lebih digital, maka pemasok komponen dan bahan baku yang sesuai standar baru akan diuntungkan. Di sinilah pentingnya kesiapan infrastruktur dan tata kelola di dalam negeri, termasuk transformasi digital dan layanan publik. Beberapa pembahasan yang relevan misalnya tentang arah digitalisasi otoritas moneter dan pembayaran dalam artikel transformasi digital Bank Indonesia.

Perubahan pola mobilitas dan urbanisasi juga menjadi isu paralel. Ketika Tiongkok mengembangkan infrastruktur dan mempercepat produktivitas perkotaan, Indonesia menyiapkan solusi kemacetan dan efisiensi kota melalui inovasi. Sebagai pembanding yang menarik, ada contoh gagasan dan ekosistem inovasi dalam ulasan startup Indonesia yang berupaya mengurangi kemacetan—sebuah pengingat bahwa pertumbuhan berkualitas sering lahir dari pertemuan kebijakan dan kreativitas pasar.

Dimensi ketahanan: iklim, bencana, dan stabilitas rantai pasok

Stabilitas ekonomi di Asia semakin dipengaruhi faktor non-tradisional, termasuk iklim ekstrem yang mengganggu produksi dan distribusi. Ketika Tiongkok memperkuat pasar domestik dan jaringan logistik, ia juga berupaya mengurangi kerentanan terhadap gangguan pasokan. Indonesia mengalami tantangan serupa, dari banjir hingga cuaca ekstrem yang berdampak pada biaya pangan dan logistik. Untuk konteks, pembaca dapat melihat laporan terkait hujan dan banjir yang memicu krisis lokal serta bagaimana ketahanan menjadi bagian dari agenda pembangunan.

Dimensi lingkungan juga memengaruhi arsitektur kebijakan: ketika dunia bergerak menuju standar lebih hijau, kebijakan industri dan konsumsi di Tiongkok—misalnya mendorong barang hemat energi—dapat mempercepat perubahan permintaan global. Ini menantang sekaligus membuka peluang bagi Indonesia dalam energi bersih, manufaktur, dan jasa. Pertanyaannya: apakah negara mitra bisa menangkap peluang ini tanpa terjebak pada pola lama ekspor bahan mentah?

Jembatan ke masa depan: stabilitas sebagai prasyarat inovasi

Dari sudut pandang Beijing, menjaga stabilitas ekonomi adalah prasyarat untuk inovasi dan transformasi. Ketika rumah tangga lebih yakin, bisnis berani investasi. Ketika pemerintah daerah memiliki ruang fiskal yang lebih tertata, layanan publik tidak terganggu. Ketika bank besar cukup kuat, kredit bisa mengalir ke sektor produktif. Dengan demikian, kebijakan ekonomi yang tampak teknis sebenarnya adalah upaya membentuk psikologi pasar: menurunkan kecemasan dan menaikkan horizon perencanaan.

Insight penutupnya: langkah-langkah Tiongkok menuju 2026 menunjukkan bahwa “menstabilkan pertumbuhan” bukan berarti menahan perubahan, melainkan mengelola transisi—dan negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia, akan paling diuntungkan bila membaca transisi itu sebagai sinyal untuk mempercepat penyesuaian strategi mereka sendiri.

Berita terbaru
Indonesia: komunitas pendaki gunung melihat pegunungan sebagai ruang budaya dan kebersamaan
Indonesia: tradisi memasak turun-temurun tetap dijaga dari ibu ke anak ?
Harapan Indonesia memasuki 2026 setelah tahun yang diwarnai bencana reformasi anggaran dan kesepakatan dagang
Tinjauan kembali komitmen Indonesia terhadap energi terbarukan hingga 2030
Uni Eropa: kebijakan baru disiapkan untuk menjamin pasokan energi pada 2026
Berita terbaru

Di banyak rumah di Indonesia, dapur bukan sekadar ruang fungsional,

Menjelang pergantian tahun, Harapan sering terasa lebih nyata dibanding angka-angka