Suami yang Istrinya Meninggal Usai Melahirkan di RSUD dr. R.Koesma Tuban

oleh -
BERDUKA : Antok (kiri) Bersama Keluarganya saat di Rumah Sakit

‘’Bagaimana Istri Saya Jatuh, Kami Ingin Tahu’’

 

MEMANG kematian adalah sunatullah. Yang kedatangannya diselimuti misteri, seperti datangnya jodoh dan rezeki. Namun, sebab kematian itu yang kadang membuat manusia seolah tak percaya. Begitulah yang dialami Sugiyanto (25). Ayah muda warga Desa Plumpang, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini, harus berpisah dengan istrinya melalui cara yang tragis.

Link Banner

Oleh : SRI WIYONO
Minggu pagi (14/01) sekitar jam 10.30 WIB mestinya menjadi awal bahagia bagi pasangan Sugiyanto dan Siti Rodhiah (21). Sebab, melalui operasi caecar, keluarga kecil itu dikarunia bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Namun, kebahagian itu sirna seketika karena sang ibu tak lama kemudian menghembuskan nafas terakhir.

Bukan kematiannya yang diratapi, namun penyebabnyalah yang disesali. Karena itu, Senin (15/01) pagi Antok, panggilan akrab Sugiyanto yang masih membawa duka di wajahnya kembali datang ke rumah sakit umum daerah (RSUD) dr R. Koesma Tuban. Di rumah sakit ini, anak pertamanya itu dilahirkan, sekaligus dia kehilangan istrinya.

‘’Kami ingin meminta penjelasan, bagaimana istri saya bisa jatuh,’’ ujarnya, ketika ditemui di bawah gerbang masuk rumah sakit milik pemkab Tuban itu.

Antok bersama tiga kerabatnya berjam-jam menunggu di bawah gerbang masuk rumah sakit. Antok menunggu kakak iparnya yang bekerja di Surabaya. Sang kakak ipar, ingin ikut meminta penjelasan pada pihak rumah sakit, tentang apa yang terjadi pada adik perempuannya itu.

‘’Kakak baru berangkat dari Surabaya tadi pagi. Mungkin sekarang masih dalam perjalanan,’’ akunya.

Sambil duduk di lantai bawah gerbang rumah sakit itu, pria yang mengaku tak lulus SMP ini menceritakan lagi kejadian yang membuatnya pilu. Kebingungan dia, dimulai saat ketika Minggu dini hari sekitar pukul 03.00 tiba di rumah sakit, karena istrinya akan melahirkan.
Namun, sampai berjam-jam sang jabang bayi tak segera lahir, sementara sang ibu sudah dalam kondisi kelelahan. Akhirnya diputuskan kelahiran melalui operasi caecar. Operasi ini sukses dan selesai sekitar pukul 10.30 pagi itu. Jabang bayi sehat dan lucu, sang ibu juga kelihatan sehat. Setelah semua persiapan selesai, sang ibu dipindah ke ruang observasi.

Dari sanalah kisah bermula. Gurat bahagia memancar dari wajah Antok dan keluarganya. Anak pertamanya sudah lahir ke dunia dengan selamat. Ibunya juga selamat. Meski saat itu kondisinya masih lemah usai dioperasi. Pihak rumah sakit meminta hanya pasien yang berada di dalam ruangan.

Sehingga, Antok dan keluarga lainnya keluar ruangan. Di dalam ruangan observasi itu, hanya ada satu pasien, sehingga menjadi dua pasien setelah ditambah istri Antok.Dan Antok pun bergegas ke warung untuk mengisi perut. Sebab, sejak malam dia belum makan.

‘’Saya memang berjanji, kalau anak saya belum lahir, saya tidak akan makan. Karena sudah lahir dan semua baik-baik saja, saya makan di warung. Bisa nyantai dan merokok,’’ ungkapnya.

Usai makan, dia kembali ke ruangan, meski hanya di luar. Belum lama dia duduk, tiba-tiba salah satu bidan memanggil dia untuk melihat istrinya di ruangan. Ketika Antok masuk ruangan, dia kaget bukan kepalang, ketika mendapati istrinya dalam kondisi terduduk di lantai sambil memegangi botol infus. Di sekitarnya darah berserakan. Diduga istri Antok jatuh ke lantai, sehingga menyebabkan pendarahan hebat. Untuk mengembalikan sang istri ke ranjang perawatan, Antoklah yang mengangkat.

‘’Saya minta bantuan suami dari pasien yang satu kamar dengan istri saya,’’ tuturnya.

Setelah kembali ke ranjang perawatan, kondisi istrinya semakin lemah, hingga kemudian diputuskan untuk dibawa ke ruang ICU. Di sana, untuk mengganti darah yang hilang dilakukan transfusi darah. Semula dua kantung, namun masih kurang, dan Antok diminta lagi menambah dua kantung darah. Total empat kantung darah dihabiskan.

Kondisi sang istri belum membaik. Pihak rumah sakit meminta persetujuan untuk melakukan operasi lagi, yakni mengangkat rahim sang istri. Karena pendarahannya hebat, kalau tidak dilakukan tindakan operasi, bisa membahayakan nyawa istrinya. Antok dijelaskan segala resikonya, termasuk resiko tak bisa punya keturunan lagi.

‘’Saya katakan, tidak apa-apa diangkat rahimnya, asal istri saya selamat,’’ ungkap dia.

Maka operasi kedua dijalankan, dan berakhir sukses. Pendarahan bisa berhenti. Namun menurut Antok, hanya sementara, karena ketika dikembalikan ke ruangan usai operasi, pendarahan kembali terjadi. Meski demikian, Antok sempat keluar dari rumah sakit untuk membeli sebuah obat yang akan diberikan pada istrinya.

Hari Minggu banyak apotek yang tutup. Satu-satunya apotek yang dibuka di Jalan Ronggolawe kehabisan obat yang dia butuhkan. Sehingga dia berkeliling untuk mencari. Di tengah upaya mencari obat itu, dia ditelepon pihak rumah sakit untuk kembali ke ruangan ICU karena kondisi istrinya kritis. Antok bergegas kembali. Dia sempat menunggui istrinya di detik-detik terakhir. Segala upaya yang dilakukan pihak rumah sakit untuk menyelamatkan pasiennya tak membuahkan hasil.

‘’Saat itu saya emosi, marah,’’ katanya terus terang.

Setelah istrinya dinyatakan meninggalpun, tak segera bisa dibawa pulang. Sebab, dia harus menyelesaikan administrasi perawatan dan lainnya. Hingga Minggu malam jenazah sang istri baru bisa dibawa pulang. Karena Antok harus pontang panting mencari uang untuk membayar biaya  rumah sakit.

”Saya semakin marah, dengan hal itu. Saya yang susah sama sekali tak diberi toleransi. Namun, saat itu saya hanya memikirkan bagaimana caranya jenazah istri saya bisa pulang. Karena itu, hari ini saya kembali lagi untuk meminta penjelasan,’’ urainya.

Menurut Antok, kalau peraturan pasien tidak boleh ditunggui di dalam ruangan, mestinya pihak rumah sakit memantau terus kondisi pasien. Karena, ketika istrinya jatuh tidak ada yang tahu. Satu pasien di samping istrinya kondisinya lemah, sehingga tidak tahu apa yang terjadi.

‘’Bidan tahu kalau istri saya jatuh karena mendengar teriakan istrinya. Penyebab istri saya jatuh inilah yang ingin kami ketahui,’’ ungkap dia.

Antok juga mengaku ingin meminta pertanggungjawaban pihak rumah sakit kalau ada kesalahan dalam penanganan. Sebab, Antok merasa pihak rumah sakit kurang bertanggungjawab, karena melarang pasien ditunggui keluarganya, namun tidak dipantau terus kondisinya.

Kematian Rodhiah sang istri, juga membuat buah hatinya piatu. Bayi laki-laki mungil itu sudah disiapkan nama. Nama yang dipilih adalah Randi Danu Pratama. Nama ini sudah didiskusikan dengan sang istri, dan sang istri sangat menyukai nama itu.

‘’Dinamai Randi karena laki-laki, kalau cewek dinamai Rindi Pratama. Pratama karena anak pertama’’ tutur dia menjelaskan sebagian arti nama yang disiapkan.

Namun, semua itu menjadi seolah tak berarti, ketika sang istri meninggal. Rencana indah yang akan dijalankan bersama keluarga kecilnya tak kesampaian. ‘’Saya rencana akan bekerja di Surabaya setelah kelahiran anak saya,’’ tandasnya sambil berkaca-kaca.

Begini Penjelasan Pihak Rumah Sakit
‘’Bukan jatuh dari tempat tidur dia dirawat,’’ begitu Direktur RSUD dr. R. Koesma Tuban, dr. Saiful Hadi menyangkal di hadapan sejumlah wartawan yang mengkonfirmasi Senin (15/01).

Dia mengatakan, Pasien menjalani operasi caecar dan selesai sekitar pukul 10.30 WIB. Bayi selamat, dan kesadaran ibunya cukup bagus sehingga dibawa ke ruang Flamboyan untuk observasi.

Di ruangan, pasien dibaringkan di tempat tidur perawatan. Bidan yang menjaganya juga memberi penjelasan pada pasien agar tidak bergerak untuk sementara waktu. Jika butuh sesuatu cukup memencet tombol atau berteriak.
‘’SOP kami memang tidak memperbolehkan keluarga masuk dalam ruangan observasi itu,’’ tambahnya.

Saat itulah, sekitar jam 11.30 Wib, petugas mendengar teriakan pasien minta tolong. Bidan kemudian masuk ke ruangan dan melihat pasien sudah berada 1,5 meter dari tempat dia tidur sambil memegang infus.

“Kami menduga pasien itu turun sendiri dari tempat tidur, kemudian berjalan 1,5 meter tidak kuat, lalu atuh,’’ ungkapnya.

Bidan dibantu suami pasien langsung mengangkat pasien itu kembali ke tempat tidur. Dia menjelaskan, pasien berdalih ingin ditunggui keluarga ketika ditanya petugas rumah sakit.

“Padahal SOP-nya kan 12 jam baru boleh ditunggui keluarga dan belajar bergerak. Pasien memaksa turun hanya beberapa jam setelah operasi karena ingin ditunggui keluarga,’’ terang Saiful.

Setelah terjatuh, pasien kemudian kembali dibaringkan ke tempat tidur. Antara jam 12.30 Wib, pasien merasa gelisah dan dilakukan pemeriksaan. Ternyata hemoglobin pasien terus menurun.

“Diperiksa, ternyata ada gumpalan darah di rahim pasien. Sehingga kemudian diputuskan untuk dioperasi,” ujar mantan Kepala Dinas Kesehatan.

Operasi kedua dilakukan, untuk mengeluarkan gumpalan darah dan memotong rahim pasien karena ada kelainan. Apabila tidak dioperasi, pasien akan semakin kehilangan banyak darah dan mengancam nyawanya. Dokter Saiful memastikan dua operasi besar boleh dilakukan hanya dalam kurun waktu beberapa jam karena kondisi mendresak.

‘’Boleh dilakukan dalam keadaan emergency dan mengancam nyawa pasien. Tentu setelah kami mendapat persetujuan keluarga,’’ tegas Saiful.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *